Yang Orang Tua Perlu Ketahui tentang Skoliosis

Skoliosis adalah kelainan lengkung tulang belakang ke sisi samping. Kelainan lengkung pada skoliosis tidak terbatas ke sisi samping saja, namun diikuti adanya rotasi serta adanya kemungkinan kelainan lengkung tulang belakang ke arah depan atau belakang. Dengan kata lain, kelainan yang terjadi bersifat tiga dimensi. Walaupun tidak mematikan penyakit ini penting dikarenakan dapat menyebabkan penurunan rasa percaya diri yang berimbas pada psikologi anak di masa depan. Penanganan sejak dini akan mengurangi kemungkinan tindakan operasi serta kemungkinan keberhasilan terapi yang lebih baik. Pada kasus yang sangat berat, skoliosis dapat berbahaya karena menyebabkan gangguan jantung dan paru.

Skoliosis, lengkung tulang belakang abnormal ke samping.

 

Terdapat keunikan pada penderita skoliosis dimana terdapat 3B, yaitu Brain, Beauty, Bengkok.

  • Brain: biasanya anak skoliosis berprestasi di sekolah.
  • Beauty: skoliosis lebih banyak terjadi pada anak gadis dan secara relatif memiliki paras yang cantik.

 

Skoliosis dapat disebabkan kelainan tulang belakang bawaan sejak lahir, penyakit otot dan saraf, trauma dan infeksi serta idiopatik. Kasus idiopatik merupakan kasus terbanyak yang dijumpai pada populasi. Sesuai artinya, penyebab skoliosis idiopatik hingga saat ini belum diketahui secara pasti, namun faktor genetik dianggap paling berperan. Terbukti dari meningkatnya risiko skoliosis pada anak yang memiliki orang tua atau saudara dengan skoliosis.

 

Skoliosis secara umum didapati pada 2-3% populasi masyarakat. Untuk kasus idiopatik dibedakan lagi berdasarkan usia sewaktu diagnosa ditegakkan oleh dokter, lokasi serta derajat berat skoliosis.

 

Pasien datang biasanya dengan 3 jenis keluhan: yaitu “CPC”: cosmetic (penampilan), pain (back pain – nyeri punggung) dan cardiopulmonar dysfunction (sesak nafas, mudah lelah; terjadi terutama pada kasus skoliosis berat). Orang tua wajib curiga adanya skoliosis pada anak bila kedua bahu, dan pinggul tidak sejajar sama tingginya.

 

Dokter perlu memastikan bahwa skoliosis yang diderita pasien bukan terkait dengan penyakit tertentu. Hal ini penting untuk diperhatikan karena skoliosis bisa jadi gejala awal yang terlihat dari sebuah penyakit tertentu seperti sindroma Marfan, kelainan otot saraf hingga infeksi tulang belakang.

 

Penanganan skoliosis dibagi menjadi 3″O”, yaitu observasi, orthose (brace / korset spinal) dan operasi. Semakin dini skoliosis ditegakkan semakin kecil risiko diperlukan tindakan operasi. Waktu terbaik dilakukan screening adalah sewaktu anak kita berusia 10-11 tahun. Skoliosis terjadi terutama pada fase pertumbuhan cepat yang terjadi sesaat sebelum menstruasi pada anak gadis atau saat tumbuh rambut kemaluan pada anak lelaki.

 

Kita sebagai orang tua dapat melakukan screening sederhana dengan melakukan metode berikut pada anak kita tercinta:


Forward Adam Bending Test

Lakukan langkah berikut:

1. Pemeriksa berada di belakang anak yang akan diperiksa.

2. Sang anak diminta untuk membungkuk dengan kedua kaki lurus dan kedua tangan dalam posisi menggantung dengan kedua telapak tangan saling menempel.

3. Hasil positif bila didapati adanya punuk pada punggung anak.

 

Lakukan setidaknya setiap 6 bulan sekali hingga 2 tahun setelah anak gadis mengalami menstruasi atau 3 tahun setelah anak lelaki tumbuh rambut kemaluan.

Strength Training pada Warga Lanjut Usia

Pada lanjut usia terjadi proses penuaan fisiologis pada otot dimana terjadi penurunan masa otot. Penurunan masa otot ini terjadi terutama pada otot tipe II.1 Penurunan masa otot terkait usia ini disebut sarkopenia. Akibat yang ditimbulkan kondisi ini adalah terjadinya penurunan kekuatan otot yang berujung pada penurunan performa, gangguan keseimbangan serta peningkatan risiko jatuh. Penguatan otot sudah dikenal sebagai salah satu metode melawan sarkopenia tetapi ternyata juga meningkatkan keseimbangan.2

Angka harapan hidup warga lanjut usia semakin panjang, sehingga penting untuk membantu warga lansia dapat semandiri mungkin dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Penurunan performa ini akan mengganggu aktivitas hidup sehari-hari warga lanjut usia seperti mengangkat belanjaan, naik turun tangga, melakukan pekerjaan rumah atau berkebun, menyebrang jalan dengan waktu yang singkat serta bermain dengan cucu-cucu mereka. Lebih jauh lagi, sarkopenia ini berisiko menyebabkan jatuh pada lansia. 3, 4

Sarkopenia terjadi dua mekanisme utama, faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor usia, faktor sistem saraf pusat dan hormonal. Faktor ekstrinsik adalah pola hidup sedentary asupan protein yang kurang baik. Terdapat beberapa intervensi yang dapat digunakan untuk melawan sarkopenia seperti asupan protein, terapi latihan fisik, hormon testosteron / androgen anabolik pada laki-laki, hormon estrogen pada wanita serta pemberian vitamin D bila didapati adanya defisiensi. Hingga saat ini terapi latihan fisik serta asupan protein merupakan intervensi terpilih untuk mencegah atau memperlambat proses penuaan tersebut.5,6

Terapi latihan fisik dalam bentuk strength training selain meningkatkan kekuatan juga memiliki keuntungan berupa: peningkatan densitas tulang, peningkatan ukuran otot, peningkatan metabolisme basal, penurunan kadar lemak tubuh, penurunan risiko diabetes. Selain kondisi medis terkait, peningkatan kekuatan dapat menurunkan risiko jatuh, meningkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari, memudahkan naik turun tangga atau duduk berdiri dari kursi. Warga lanjut usia yang rutin melakukan aktivitas aerobik tetap akan mendapatkan keuntungan dari strength training. Juga pada warga lanjut usia yang rapuh (frail elderly), strength training mempersiapkan lansia untuk dapat melatih kapasitas aerobiknya.4

Strength training tidak dianjurkan pada warga lansia dengan kondisi diabetes, nyeri dada, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol; hernia, katarak dan sedang dalam pengobatan kondisi terkait; perdarahan retina; cedera pada sendi atau tulang; gangguan irama jantung, gagal jantung yang belum terkompensasi; penyakit terminal serta gangguan kognitif.4

Strength training pada lansia dapat dilakukan minimal 2 kali dalam seminggu dengan intensitas sedang hingga berat; dapat menggunakan beban atau berat tubuh – kalistenik sebanyak 8-10 jenis latihan tiap kali latihan dan sebanyak 8-12 kali repetisi untuk masing-masing kelompok otot besar.7

Contoh jenis latihan penguatan pada lansia:

Gambar 1. Contoh strength training untuk lansia. 8

Pusat Kesehatan di Amerika Serikat mengeluarkan buku panduan strength training untuk warga lanjut usia. Panduan tersebut menganjurkan dilakukannya dilakukan pemanasan, latihan inti kemudian ditutup dengan pendinginan. Pemanasan selama 5-10 menit dengan berjalan biasa. Tujuan dilakukannya pemanasan adalah supaya mencegah cedera. Pada saat pemanasan, darah akan menuju ke otot serta mempersiapkan tubuh untuk berolahraga. Selain berjalan dapat juga menggunakan sepeda statis, alat dayung atau stair stepper. Sementara latihan peregangan juga memiliki peran sama pentingnya dengan pemanasan. Peregangan atau pendinginan dilakukan setelah latihan inti selesai dilakukan. Peregangan bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas, mencegah cedera, mengurangi ketegangan serta membantu supaya relaks.8

1.    Hazzard WR. Principles of Geriatric Medicine and Gerontology: McGraw-Hill Professional Publishing; 2003.

2.    Gonzalez AM, Mangine GT, Fragala MS, Stout JR, Beyer KS, Bohner JD, et al. Resistance training improves single leg stance performance in older adults. Aging Clin Exp Res. 2014;26(1):89-92.

3.    Landi F, Liperoti R, Russo A, Giovannini S, Tosato M, Capoluongo E, et al. Sarcopenia as a risk factor for falls in elderly individuals: results from the ilSIRENTE study. Clin Nutr. 2012;31(5):652-658.

4.    Porter MM. Power training for older adults. Appl Physiol Nutr Metab. 2006;31(2):87-94.

5.    Valeria Z, Renato G, Luisa C, Bruno V, Mauro Z, Matteo C. Interventions Against Sarcopenia In Older Persons. Curr Pharm Des. 2014.

6.    Thomas DR. Sarcopenia. Clin Geriatr Med. 2010;26(2):331-346.

7.    Chodzko-Zajko WJ, Proctor DN, Fiatarone Singh MA, Minson CT, Nigg CR, Salem GJ, et al. American College of Sports Medicine position stand. Exercise and physical activity for older adults. Med Sci Sports Exerc. 2009;41(7):1510-1530.

8.    Seguin RA, Activity JHCfP, Nutrition, J. G, Science DRFSoN, Policy. Growing Stronger: Strength Training for Older Adults: John Hancock Center for Physical Activity and Nutrition, Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University; 2002.

 

Dasar Rehabilitasi Anak

Tags

, ,

Beberapa kondisi penyakit pada anak yang menjadi kompetensi dokter rehabilitasi:
cerebral palsy
– distrofi muskuler progresif
– spina bifida
– keterlambatan perkembangan (developmental delay)
– hipotoni

Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan kondisi yang mengganggu potensi peran seorang anak untuk berpartisipasi di masa kanak-kanak mereka atau pada saat dewasa nanti. Dokter harus memahami kriteria diagnostik, prinsip penanganan dan komplikasi yang akan timbul. Penentuan kriteria ini wajib diketahui dengan pasti, karena diagnosis penyakit yang disebutkan tadi merupakan vonis yang berisiko menjadi beban psikologis bagi keluarga.

Prinsip dasar penanganan rehabilitasi anak HARUS selalu mempertimbangkan sebagai berikut:
1. Anak bukanlah miniatur orang dewasa.
Sebaliknya, bagaimana bagaimana kita, tenaga medis dapat menyiapkan anak supaya dapat menjadi seorang dewasa yang mandiri dan bahkan berkompetisi dengan dunia manusia normal. Prinsip ini berarti bukanlah mengajarkan kembali kemampuan atau keahlian yang sudah dimiliki; melainkan mengajarkan sedari awal kemampuan MOTORIK “yang sesuai-memungkinkan dipelajari” oleh anak seusianya.
2. Anak merupakan produk LINGKUNGANnya.
Artinya, bagaimana kita mengedukasi orang tua supaya semaksimal mungkin menciptakan lingkungan yang dapat membantu perkembangan anak tersebut.
3. Tumbuh kembang normal harus dipantau.
Mengejar ketertinggalan menjadi target tenaga medis, sampai di titik dipertimbangkannya terapi substitusi.
Dukungan emosional juga memegang peranan sangat penting.
4. Pertumbuhan tulang dan lingkup gerak sendi .
Pada anggota gerak yang lemah, stimulasi pertumbuhan tulang tentu saja tidak sebaik anggota gerak yang normal . Akibatnya: pertumbuhan tulang menjadi tidak sama; dengan kata lain risiko terjadi length discrepancy. Karena itu pemantauan berkala serta keputusan kapan dilakukan intervensi harus dikuasai oleh dokter. Di sisi lain, pada otot dengan gangguan tonus yang meningkat, berisiko terjadi pemendekan otot; intervensi dini sangat penting dilakukan.

Mempersiapkan pasien supaya dapat hidup mandiri di kemudian hari, menciptakan lingkungan yang kondusif, mengajarkan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang disesuaikan dengan usia, dukungan emosional serta menjaga kondisi tulang dan sendi. Demikian prinsip utama penanganan rehabilitasi pada anak.

Semoga berguna.

Disarikan dari Medical Rehabilitation Grabois & Halstead

Dasar Rehab

Catatan pribadi biar ga lupa :D

 

Definisi IKFR

Is a branch of Medicine concerning with the study of comprehensive management of disabilities arising from  disease or injury of the Neuro-Musculo-Skeletal and Cardio-Pulmonary Systems and the Bio-Psycho-Socio disruptions concomittant with them

Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penanganan komprehensif terhadap segala bentuk disabilitas yang disebabkan oleh cedera atau penyakit dari sistem neuromuskulosketal, kardiopulmoner dan gangguan biopsikososio yang menyertainya

Definisi impairment

Any loss or abnormality of psychological or anatomical structure or function

Abnormalitas atau hilangnya struktur atau fungsi anatomis dan psikologis

Definisi disabilitas

Any restriction or lack resulting from an Impairment of ability to perform an activity in the manner or within the range considered normal for human being

Keterbatasan atau kurangnya kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas yang dianggap sebagai aktivitas normal akibat impairmen

Definisi handicap

A disadvantage for a given individual resulting from an Impairment or Disability that limits or prevents the fulfillment of a role that is normal for that individual   (depending on the age, sex and social-cultural factors)

Ketidakmampuanseseorang akibat impairmen dan disabilitas yang membatasi atau mencegah seseorang memenuhi pemenuhan peran yang dianggap normal untuk seseorang.

Rehabilitasi pada Operasi Dada

Rehabilitasi pada Operasi Dada

TUJUAN: mengurangi resiko atelektasis dan pneumonia pasca operasi

 

Preoperative Chest Therapy Program

 

  • Penggunaan incentive spirometer dengan target sesuai tinggi badan dan usia
  • Deep breathing exercise pada posisi semi-Fowler
  • Latihan batuk/huffing efektif dengan teknik splinting (gunakan bantal atau letakkan tangan di bekas operasi)
  • Postural drainage bila terdapat banyak dahak pre operasi
  • Rolling: memungkinkan mobilitas pasien dan mengurangi gerakan togok.

 

Postoperative Program

Dimulai pasca operasi hari pertama.

 

  • Diaphragmatic atau segmental breathing, sangat membantu pada saat pasien masih menggunakan ventilator.
  • Postural drainage + vibrasi . Hindari clapping, shaking, bouncing.
  • Kontra indikasi pada keadaan hemodinamik yang tidak stabil atau terdapat pneumothorak.

     

 

 

 


 

 

 

 

 

Tabel Rehabilitasi pasca CABG

 

Pasca Operasi hari ke

Regimen Agresif

Regimen Lambat

1

Ongkang-ongkang segera setelah ekstubasi

Bed rest

2

Ongkang-ongkang

Duduk di kursi untuk sarapan pagi

Jalan di sekitar tempat tidur selama 1 menit

Duduk di kursi untuk makan siang

Jalan di sekitar tempat tidur selama 1 menit

Duduk di kursi untuk makan malam

Jalan ke kamar mandi dengan bantuan

Jalan di ruangan dengan bantuan sejauh 15 meter

Ruang biasa dengan monitor jantung

Duduk ongkang-ongkang di siang hari selama 30 menit

Duduk di kursi untuk makan malam sesuai toleransi pasien

3

Berjalan 2-4 menit dengan bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 2, selama 10 menit, 2x/hari

Berjalan 2 menit dengan bantuan, 2x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 2.1 selama 6-8 menit

4

Berjalan 4-5 menit dengan bantuan minimal

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 3.7 selama 15 menit. 2x/hari

Pasien diperbolehkan pulang sore harinya

Berjalan 3 menit dengan bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 3.1 selama 15 menit

 

5

 

4 menit berjalan tanpa bantuan, 3 x /hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 4.1-4.6 selama 15-20 menit

6

 

5 menit berjalan tanpa bantuan tanpa bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 4.1-4.6 selama 15-20 menit

7

 

Exercise mandiri, berjalan mandiri di pagi hari

Pasien diperbolehkan pulang siang harinya

 

Cuccurullo, Sara. Physical Medicine & Rehabilitation Board Review. Demos Publishing, New York: 2010

Filosofi di balik Spesialis Rehabilitasi

Dokter dan Pasien sebagai manusia, dokter dan Pasien sebagai penyakit.

Awalnya tercetus di pikiran saya, kenapa salah satu bidang kedokteran yang dulu di Indonesia disebut sebagai dokter rehabilitasi medik (RM) menjadi dokter kedokteran fisik dan rehabilitasi (KFR). Mungkin perubahan nama ini untuk mempertegas kompetensi dari dokter yang bernaung dibawah kolegium KFR ini serta menyesuaikan kolegium internasional yaitu Physical Medicine and Rehabilitation. Lebih lanjut sekalian saya jabarkan apa itu KFR, filosofinya dan apa bedanya dengan spesialisasi yang lainnya.

KEDOKTERAN FISIK memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan gangguan fisik, penggunaan alat neurodiagnostik seperti elektromiografi dan memaksimalkan pengobatan menggunakan MEDIA FISIK seperti panas, dingin, air, listrik. Sementara REHABILITASI memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan GANGGUAN FUNGSI, dengan modal pemeriksaan fungsi motorik dan sensorik, penilaian fungsi kognitif dan pengobatannya ditujukan bagaimana pasien dapat meningkatkan fungsi serta bila perlu diedukasi untuk perubahan perilaku.

Filosofi KFR sendiri adalah bagaimana seorang dokter dapat mengevaluasi, mengobati, mengembalikan atau memaksimalkan fungsi yang tersisa sehingga pasien mampu melakukan aktivitas dengan potensi fisik, sosial, psikologis serta pekerjaan seperti sebelum sakit. Sekali lagi tulisan ini mengingatkan saya untuk selalu menanyakan tidak hanya keluhan fisik saja tetapi juga kondisi kejiwaan, kondisi keluarga, pekerjaan, lingkungan rumah.  Kondisi fisik sendiri yang menjadi fokus adalah sistem kardiorespirasi dan neuromuskuloskeletal.

Ada beberapa istilah yang akrab dikenal di kalangan KFR, istilah itu adalah: impairment, disability dan handicap.  Impairment adalah gangguan atau keterbatasan fisik yang disebabkan karena penyakit, cedera atau  kelainan dari lahir. Disability adalah akibat dari impairment dimana pasien tidak mampu untuk mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang mendasar seperti memakai baju, mandi, makan. Handicap adalah keterbatasan partisipasi di lingkungan yang seharusnya dapat dilakukan oleh orang secara normal.

Peran seorang dokter KFR adalah menghilangkan atau meminimalisasi impairment bila memungkinkan, dan mencegah impairment menjadi disabilitas. Seperti dikatakan sebelumnya menanyakan kondisi fisik, sosial, psikologis dan pekerjaan sangat penting. Sebagai contoh peran yang dijalankan seorang KFR: penanganan terhadap seorang petani laki-laki usia 45 tahun pasca operasi amputasi bawah lutut karena kecelakaan lalu lintas. Yang dilakukan adalah bagaimana menghilangkan nyeri pasca operasi, mempersiapkan puntung kakinya supaya dapat dipasang kaki palsu, menguatkan otot paha, melatih cara berjalan dengan kaki palsu. Tidak hanya itu tetapi juga sebelumnya konseling kondisi psikologisnya terutama bagaimana pasien dapat menerima dan menghadapi konsekuensi dari penyakitnya. Lingkungan sosialnya pun juga dinilai dalam arti dengan siapa pasien tinggal, tanggungan hidup sampai model kamar mandi, lantai rumah, jalan di sekitar rumah, transportasi yang digunakan sehari-hari. Semua ini dilakukan supaya pasien dapat kembali ke lingkungan sosialnya, tetap berpartisipasi aktif serta tetap berkarya (istilah kami re-integrasi sosial). Pendekatan ini jelas akan berbeda-beda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Pasien sebelumnya pasti akan berbeda penanganannya dengan anak usia 5 tahun yang datang ke dokter KFR dimana tangan kanannya diamputasi karena tumor.

Secara tradisional ORIENTASI dokter ketika melihat sebuah penyakit adalah hasil interaksi antara molekul, sel dan organ biologis sampai akhirnya terjadi PENYAKIT. Seorang dokter KFR selain melihat penyakit pasien itu sendiri juga menilai ketidakmampuan FUNGSIONAL dalam menjalankan aktivitas vital. Mungkin boleh dianggap sebagai salah satu bidang spesialisasi yang menganggap pasien sebagai manusia. Menangani manusianya, bukan hanya penyakitnya.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih residensi di bidang ini. Selama saya PTT dan bekerja sebagai dokter umum di salah satu RS swasta terbaik di Indonesia, saya melihat cukup banyak pasien sembuh dari stroke tapi tidak mampu mandiri, gagal jantung yang sudah stabil tapi tidak tahu pekerjaan apa yang mampu dilakukannya, pasca operasi ganti pinggul tapi tetap menggunakan kursi roda.

Di bidang kedokteran modern, peran dokter dan pasien adalah seimbang. Dibutuhkan peran proaktif dari kedua pihak. Dalam arti dokter mendiagnosa dan mengobati sementara pasien juga harus tahu apa penyakitnya dan apa saja yang bisa secara aktif dilakukan oleh pasien dalam menghadapi penyakitnya termasuk perubahan kebiasaan serta persiapan emosional.

Dalam melakukan pendekatan fisik, sosiopsikovokasional, seorang dokter KFR bekerja secara TIM. Tim tersebut terdiri dari dokter KFR, fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, psikologis, petugas sosial medis dan perawat.

Pendekatan terapi tidak terbatas pada pengobatan saja tetapi lebih ke manajemen. Pengobatan disini dengan maksud pemberian obat untuk menyembuhkan penyakitnya dengan obat, pembedahan dimana sifatnya lebih ke penanganan gejala. Sementara manajemen adalah bagaimana menghilangkan (relief) disability dan meningkatkan fungsi.

Gol seorang dokter tradisional adalah gejala dan penyakit, sementara dokter KFR adalah FUNGSI!

Di buku teks saya tertulis dalam bahasa Inggris dimana dokter KFR not just curing but healing, healing is active, curing is passive, healing is curing + caring.

Healing is decreasing discomfort and enhancing a sense of physical and psychological well being.

Pada intinya pendekatan dokter KFR adalah menganggap pasien as a whole human, menggunakan pendekatan tim dalam menilai fungsi dan kondisi sosiopsikovokasionalnya seperti sudah dibahas sebelumnya dan yang terakhir adalah: EDUKASI pencegahan penyakit ataupun bagaimana pasien mengatasi disabilitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Cure sometimes, treat often, comfort always.
Hippocrates

Yang Sebaiknya Anda Tahu tentang Wajah Perot Sebelah

Seminggu ini saya masuk stase Poli Rawat Jalan di Klinik Rehabilitasi Rumah Sakit Umum XXX. Dalam 3 hari praktek ada 4 pasien dengan kelumpuhan otot wajah yang datang sendiri ataupun rujukan dari bagian penyakit lain. Jadi tertarik bikin artikel sederhana mengenai penyakit dengan gejala ini.

Wajah dan ekspresinya merupakan sesuatu yang kompleks, rumit, unik, susah dipelajari, beragam arti dan jendela emosi. Gangguan saraf wajah akan menyebabkan penurunan percaya diri pasien dan beresiko membatasi partisipasi seseorang di masyarakat. Pengetahuan tentang penyakit ini akan membantu pasien dalam menyikapi gejala yang ada. Semoga berguna, enjoy!

Pasien laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan utama kelumpuhan separuh wajah kiri sejak 3 hari yang lalu. Timbul mendadak dan makin parah sejak 2 hari yang lalu dan bertahan sampai sekarang. Mulai dirasa pada saat pasien sedang naik motor, pasien menggunakan helm tanpa penutup wajah. Pada saat muncul gejala, pasien merasa kondisi tubuhnya sedang tidak enak, sedikit demam. Pendengaran telinga kiri sedikit terganggu, menjadi lebih sensitif dibanding sebelum sakit, tidak ada nyeri ataupun kelainan kulit di sekitar telinga. Sisi kiri wajah menjadi lebih kering dibanding sisi normal. Lidah terasa baal saat menikmati makanan. Mata terlihat seperti “jatuh” mengantung saat berkaca.

Aktivitas sehari-hari tidak terganggu tetapi merasa ada makanan yang tertinggal selesai mengunyah-menelan makanan. Pasien merasa kurang percaya diri bila bertemu orang lain, ketakutan stroke atau terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, kolesterol, alergi, riwayat penyakit kulit-kelamin sebelumnya. Belum mengkonsumsi obat-obatan sampai sekarang.

Dari pemeriksaan fisik didapati tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada gangguan motorik dan sensorik di bagian tubuh yang lain. Dari pemeriksaan wajah didapati pasien tidak bisa mengangkat alis, mengerutkan (mengernyitkan dahi), meringis, menutup mata spontan, mengangkat bibir bawah ke arah hidung, melebarkan lubang hidung, tersenyum lebar dan memonyongkan bibir. Tidak ada kelainan di rongga mulut dan liang telinga.

Pasien sudah membawa hasil pemeriksaan darah rutin, tidak ditemukan adanya kelainan pada hasil.

____________________________________________________________________

Dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik dan cek darah rutin yang ada dapat disimpulkan bahwa terjadi kelumpuhan saraf wajah (paresis nervus facialis) perifer.

Terapi yang dapat diberikan adalah steroid dengan atau tanpa antivirus, vitamin saraf, zinc beserta fisioterapi. Peran dokter disini adalah memastikan bahwa kelumpuhan saraf wajah itu berasal dari saraf perifer/tepi bukan saraf pusat/sentral (Stroke), memberikan terapi dan melakukan intervensi supaya tidak terjadi komplikasi.

Tanya Jawab:

Bell’s Palsy itu apa?

  • Gangguan pada saraf wajah satu sisi yang bersifat mendadak, progresif, dan bersifat self limiting disease tanpa diketemukan penyebab pastinya.

Bedanya sama stroke?

  • Bila pasien tidak mampu mengangkat alis disertai bibir mencong kemungkinan besar Bell’s palsy. Bila pasien mampu mengangkat alis tapi ditemukan adanya bibir mencong, bicara pelo, kelemahan anggota badan dengan atau tanpa kesemutan di separuh badan kemungkinan besar itu Stroke dan sebaiknya segera ke Rumah Sakit secepatnya!

Gambaran anatomis yang menjelaskan beda kelumpuhan saraf wajah perifer dan kelainan saraf sentral (perhatikan bahwa persarafan wajah sisi atas juga dipersarafi oleh otak di sisi yang sama, sementara wajah sisi bawah hanya dipersarafi oleh otak di sisi berlawanan).

Penyebab Bell’s palsy itu apa?

  • Kelumpuhan saraf wajah baru boleh disebut sebagai Bell’s palsy BILA semua penyebab gangguan saraf lainnya sudah disingkirkan.

Penyebab kelumpuhan saraf wajah itu apa saja?

  • Bisa karena infeksi (penyakit Lime, infeksi organ pendengaran, infeksi kelenjar parotis), tumor (akustik neuroma), penyakit kekebalan tubuh (autoimun seperti Multiple Sklerosis), gangguan metabolisme (seperti tiroid). Bila semua tersangka penyebab kelumpuhan saraf wajah ini dinyatakan tidak bersalah, barulah boleh disebut sebagai Bell’s palsy. Karena itu segera kontrol ke dokter yah kalo ada gejala seperti ini :).

Siapa saja yang mungkin terkena?

  • Semua orang mungkin terkena, tetapi angka kejadiannya lebih sering pada usia 15-60 tahun, ibu hamil trimester 3 atau satu minggu pasca melahirkan, riwayat infeksi virus herpes zoster dan pasien dengan kencing manis.

Sebaiknya kapan saya ke dokter bila didapati gejala seperti di atas?

  • Paling lambat 48 jam setelah gejala muncul.

Sebelum saya ke dokter, tindakan apa saja yang dapat saya lakukan di rumah?

  • Berikan tetes mata, jaga kebersihan gigi mulut, oleskan pelembab dan lakukan pijatan ringan dari bibir ke arah telinga dan alis. Juga latihan otot wajah di depan kaca.

Kalo ke dokter ntar diapain sih?

  • Dokter akan menyingkirkan penyebab-penyebab kelumpuhan saraf wajah, memberi obat, memberikan program latihan dan fisioterapi yang dapat diberikan. Pada kasus tertentu dapat dilakukan pemeriksaan Elektromyografi untuk penentuan terapi selanjutnya.

Bisa sembuh ga yah?

  • Setelah timbul gejala, biasanya akan makin parah sampai minggu ke 3, kemudian gejala bertahan konstan sampai 6 bulan. Proses penyembuhan berlangsung spontan setelah 6 bulan sampai tahunan. Peran dokter rehab disini adalah mencegah jangan sampai kelainan di wajah itu menetap.

Kalau sampai kena Bell’s palsy ini kemungkinannya bisa seberapa parah?

  • Dua dari 3 penderita Bell’s palsy akan mengalami kelumpuhan total, dimana sisanya 1 dari 3 akan mengalami kelumpuhan sebagian. Pasien yang menderita kelumpuhan total 60 persen akan kembali normal, sementara yang menderita kelumpuhan sebagian 94 persen akan kembali normal.
  • Delapan puluh lima persen akan mengalami perbaikan di minggu ke tiga, satu dari tujuh pasien akan mengalami gejala sisa ringan sementara satu dari enam pasien akan mengalami gejala sisa yang cukup berat, kontraktur wajah (asimetri wajah menetap) dan sinkinesis.

Sinkinesis itu apa?

  • Proses penyembuhan saraf yang terjadi tidak terorganisir dengan baik, sehingga terjadi respon yang salah dari saraf wajah. Contoh: pada saat mengunyah, bukannya air liur yang keluar malahan air mata, pada saat ingin tersenyum justru malah mengedipkan mata.

Saya menderita Bell’s sudah lebih dari 2 tahun dan belum ada perbaikan, apa yang bisa dokter lakukan untuk saya?

  • Dokter bisa saja menganjurkan latihan otot dan pijat wajah, pemberian suntikan Botox atau bila diperlukan dilakukan operasi bedah plastik. Anjuran ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Bacaan lebih lanjut – referensi:

http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview
http://www.mayoclinic.com/health/bells-palsy/DS00168
http://www.aafp.org/afp/2007/1001/p997.html#afp20071001p997-t2
http://www.uptodate.com/contents/bells-palsy-pathogenesis-clinical-features-and-diagnosis-in-adults?source=see_link#H3
http://www.healthyandstrong.net/tag/bells-palsy-signs

Semoga berguna.

“Dokter Rehab Medik”, Itu Dokter Apa?

Akhir-akhir ini banyak orang menanyakan kesibukan apa yang sedang saya jalani. Saya menjawab, “Sedang menjalani program pendidikan dokter spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi” … “Apa?” … “Iya, dulu namanya dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Sp.RM), sekarang ganti nama menjadi Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR). … “Ooo, dokter Rehab Medik … mmm sebenarnya itu dokter apa sih? Mirip fisioterapi gitu?” Begitu banyaknya pertanyaan ini mendorong saya untuk menulis apa itu dokter rehabilitasi medis sejauh yang saya ketahui.

Saat saya mencoba untuk mendefinisikan sendiri apa itu dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, saya menyadari diri saya belum mampu melihat cakupan bidang ini seutuhnya. Spesialisasi yang menggunakan media fisik dalam pengobatannya dan memfokuskan diri dalam rehabilitasi pasien ini memiliki cakupan yang luas. Boleh dikatakan dokter Rehab mirip dengan dokter Orthopedi tetapi tanpa pisau, mirip dengan reumatolog, pulmonologis-cardiologis, pediatris dan neurologis tetapi tanpa obat-obatan. Dokter Rehab tidak mengambil peran dari dokter spesialis tersebut, tetapi menjadi partner sepadan di dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pasien.

Dokter Rehab Medik mungkin sudah dikenal di masyarakat karena penanganan nyeri lutut dan nyeri punggung bawah yang komprehensif. Boleh dikatakan cakupan kompetensi dokter rehab jauh lebih luas dari sekedar penanganan nyeri lutut dan punggung saja. Dokter Rehab menangani pasien dari bayi lahir sampai pasien lanjut usia tanpa memandang jenis kelamin. Kasus saraf, kasus otot-tulang-sendi, kasus jantung paru, kasus cedera olahraga, kasus lansia, pasien amputasi dan kasus gangguan tumbuh kembang anak.

Di dalam praktek sehari-harinya, dokter Sp.KFR bekerja sebagai pemimpin tim yang terdiri dari, fisioterapis, okupasional terapis, terapi wicara, pekerja sosial, ortotis prostetis (pembuat alat bantu – pengganti bagian tubuh palsu), perawat medis, psikolog dan perawat. Dokter rehab akan mengumpulkan problem list pasien dari masalah dengan mobilitas, aktivitas merawat diri, komunikasi, psikologi, sosioekonomi, pekerjaan dan mencari solusinya.

Hal lain yang membedakan dokter rehabilitasi medik dengan dokter spesialisasi lainnya adalah dokter Rehab memandang pasien tidak saja dari segi penyakit tetapi juga dari segi fungsi dan bersifat holistik. Seorang pasien yang sudah stabil dari serangan jantung koroner misalnya, sepulang dari rawat inap mendapat resep obat hingga tekanan darah ataupun keluhan nyeri dada hilang. Tetapi bagaimana pasien tersebut menjalani hidupnya, bagaimana pasien bisa kembali ke performance semula, kapan diperbolehkan melakukan hubungan seks, aktivitas apa saja yang diperbolehkan, bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan dan kapan diperbolehkan bekerja kembali menjadi peran dokter Rehab.

Dokter Rehab memandang pasien dari segi penyakit dan FUNGSIONALnya.

Kasus yang menjadi kompetensi kami antara lain: kasus anak seperti Down syndrome, cerebral palsy, keterlambatan bicara, keterlambatan perkembangan anak, kaki pengkor, lutut O; cedera olahraga; kasus saraf seperti pemulihan stroke dan komplikasinya, cedera sumsum tulang belakang, sindroma Guillan Barre; kasus tulang-otot-sendi seperti nyeri lutut, kaku sendi bahu, rehabilitasi pasca operasi tendon; rehabilitasi gagal jantung, penyakit paru kronik dan kasus lansia yang beraneka ragam komplikasinya.

Dokter rehab mengobati menggunakan media fisika seperti: terapi latihan, terapi panas-dingin, listrik, LASER, pool therapy, traksi dan pijat. Semua media fisika yang dipakai sudah diuji dahulu khasiatnya menggunakan penelitian jangka panjang, bukan hanya pengalaman temporer semata.

Pencegahan komplikasi penyakit, mengembalikan kemampuan pasien, bagaimana memfasilitasi pasien supaya mampu beradaptasi dengan kondisi penyakit, pembelajaran keterampilan baru, mencegah kondisi supaya jangan sampai dioperasi, mencegah kecacatan dan manajemen nyeri adalah keahlian kami.

Rehabilitasi medik tidak hanya mengobati penyakit tetapi juga mengupayakan supaya pasien dapat berpartisipasi kembali di masyarakat seoptimal mungkin.

Pada intinya, dokter rehab berkompeten untuk memeriksa, mendiagnosa, mengobati dan mengevaluasi pengobatan pada kasus neuromuskuloskeletal, kardiorespirasi dan masalah biopsikososiovokasional yang menyertai. Dengan gol dimana pasien dapat diupayakan semandiri mungkin serta mampu memberi nilai tambah bagi orang lain tanpa gangguan.

Berikut link website yang berguna bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai cakupan dan sejarah IKFR.

http://www.aapmr.org/patients/aboutpmr/Pages/physiatrist.aspx
http://www.physiatry.org/Field_Section.cfm
http://en.wikipedia.org/wiki/Physical_medicine_and_rehabilitation

Terima kasih.

Ternyata Stroke Menakutkan!

Gejala klasik yang mungkin semua orang sudah ketahui mengenai stroke adalah lemas atau kesemutan separuh badan. Ketika saya mempelajari stroke lebih dalam, saya menyadari ada banyak komplikasi yang mungkin kurang dikomunikasikan kepada masyarakat luas betapa menakutkannya stroke itu.

Gejala stroke menyesuaikan lokasi dan luas area otak yang terkena. Gejala yang seringkali terlihat sepintas adanya sudut bibir yang tertinggal, tangan dan kaki yang lemas. Terlebih dari gangguan yang bersifat motorik tubuh, ada juga gejala stroke lainnya yang jarang disinggung. Seperti gangguan berbahasa, gangguan berbicara, gangguan menelan, gangguan emosi, gangguan memori dan juga depresi. Lebih menakutkan lagi bila terkena di pusat kesadaran atau di pusat pernafasan, pasien menjadi seperti tumbuhan. Begitu variatifnya gejala stroke tidak memungkinkan untuk saya tulis semua di blog ini.

Baru sekitar setahun lalu salah seorang mentor saya, dokter terkenal di Indonesia karena pengabdiannya di bidang penyakit sendi terkena stroke. Lokasi stroke berada di pusat berbahasa. Beliau terkena salah satu dari bermacam-macam jenis afasia (gangguan berbahasa). Beliau masih bisa menangkap apa yang orang lain ingin sampaikan tetapi mengalami kesulitan untuk mengungkapkan apa yang dia mau baik dalam ucapan, maupun tulisan. Otomatis pekerjaannya sebagai dokter harus ditinggalkan. Sungguh sangat disayangkan bukan?

Ada juga pasien lain yang terkena gangguan bicara dan gangguan menelan. Kedua gangguan ini biasanya muncul bersamaan karena dipersarafi oleh saraf yang sama. Pasien dengan gangguan bicara biasanya mengalami masalah kepercayaan diri karena bicara menjadi sengau atau pelo. Sementara gangguan menelan memiliki resiko yang lebih tinggi. Beresiko terjadi infeksi paru yang menyebabkan kematian bila makanan-minuman yang diberikan tersedak masuk ke paru-paru atau bahkan kematian langsung bila menyumbat jalan nafas.

Ada juga pasien yang sebelumnya pendiam mendadak berubah menjadi pemarah, hal ini pun bisa terjadi karena stroke. Pada kasus seperti ini sangat penting bagi keluarga untuk bisa mengantisipasi dan mau menerima perubahan ini.  Belum lagi pasien stroke yang terkena di pusat memori sehingga menjadi pelupa, ada pula yang tidak mampu mengenali wajah bahkan wajah istrinya sendiri (prosopagnosia).

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti terapi konseling untuk penderita penyakit kronik. Di salah satu sesinya yang bertema stroke saya diminta untuk memperagakan pasien stroke dengan kelumpuhan separuh badan kiri. Simulasi yang diminta adalah memakai kaos lengan pendek dan berjalan memakai kruk. Anda tahu … saya sampai keringatan tidak diperbolehkan menggunakan tangan dan kaki kiri saya.  Terlebih ketika saya diminta untuk secara mandiri menggunakan kursi roda. Semua aktivitas tersebut begitu susahnya, begitu repotnya dan begitu memakan waktu! Dari simulasi tersebut saya menjadi sadar sesadar-sadarnya betapa menakutkannya stroke itu. Tidak bisa berkarya, mengganggu kemandirian, resiko kehilangan pendapatan, merepotkan orang lain, menghabiskan dana, rasa malu dan depresi.

Karena itu bila Anda memiliki gaya hidup yang tidak sehat, rubahlah. SEKARANG!

Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Semoga berguna.

 

Waspada Stroke Sejak Dini

Di hari-hari liburan panjang seperti lebaran ini, siapa sih yang tidak tergoda untuk kuliner makanan enak? Saya pun mencari-cari makanan-makanan unik yang belum pernah saya cicipi, apalagi di kota wisata tujuan. Tidak heran pasca lebaran panjang, berat badan kita naik. Sukur-sukur kalo yang sebelumnya berat badan kurang jadi ideal. Kalau berat badan kita sudah ideal jadi overweight? Atau yang overweight jadi obesitas?

Berat badan berlebihan dihubungkan dengan profil kolesterol yang buruk. Kolesterol tinggi ditambah dengan faktor perokok, kencing manis, tidak pernah berolahraga meningkatkan resiko terjadinya stroke. Fakta di masyarakat, usia penderita stroke semakin muda. Stroke bisa terjadi pada Anda dan saya.

Apa sih stroke itu sebenarnya? Stroke atau istilah kerennya cerebrovascular accident adalah gangguan saraf terlokalisir yang bersifat mendadak dan bertahan lebih dari 24 jam. Gejala umum yang orang awam sebaiknya tahu adalah adanya PSK, yaitu bicara Pelo, tangan dan kaki Susah diatur, dan Kesemutan di tubuh.

Apa yang sebaiknya dilakukan? Segera bawa ke Rumah Sakit Rujukan Stroke yang Anda ketahui SECEPATNYA! TIME IS BRAIN! Semakin lama Anda menunda, kerusakan semakin luas dan beresiko nyawa. Semisal pasien dalam kondisi “stabil”pun penundaan terapi beresiko mengurangi kemampuan fungsional di masa mendatang.

Stroke terbagi menjadi 2 macam; stroke akibat perdarahan dan stroke akibat kurangnya suplai darah ke otak (iskemik). Stroke akibat perdarahan disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak yang mungkin harus dioperasi. Indikasi operasi menyesuaikan seberapa luas ukuran perdarahan dan lokasi. Sementara stroke akibat kurangnya suplai darah ke otak bisa disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah (trombus) atau emboli dari jantung. Yang terakhir disebut ini lebih disebabkan karena irama jantung yang tidak teratur yang menyebabkan terbentuknya gumpalan darah (vegetasi) dan kemudian menyumbat di pembuluh darah otak. Jenis stroke yang kedua ini bila dibawa ke pusat rujukan yang tepat mempunyai outcome yang bagus.  Mereka memiliki fasilitas dilakukannya trombolisis, sejenis prosedur pemberian terapi untuk membuka  pembuluh darah yang tersumbat. Penelitian terakhir menyatakan pemberian trombolisis bisa diberikan maksimal 4,5 jam dari awal gejala.

Untuk para pembaca yang masih berusia di bawah 35 tahun, sebaiknya Anda mulai waspada terhadap penyakit seperti ini. Berolahragalah secara teratur, jaga pola makan, bergaya hidup sehat, hindari rokok, manajemen stres dan setidaknya check up rutin minimal setahun sekali. Sukur-sukur ada fasilitas dari perusahaan.

Semoga berguna.

for stroke patients TIME IS BRAIN

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers