Suplemen untuk Mempercepat Penyembuhan Cedera Otot (berbasis bukti)

Kerusakan otot akan menyebabkan munculnya sel-sel radang dimana terjadi proses fagositosis (sel radang membersihkan sel rusak). Proses ini akan menghasilkan adanya sampah oksidatif dalam tubuh (reactive oxygen species – ROS). Adanya ROS ini akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut dari sel otot yang sudah rusak. Bagaimana hubungan antara ROS, kerusakan otot dan nyeri masih belum dapat dipahami sepenuhnya. Setidaknya dari pendapat ini dapat dipahami peran antioksidan dalam negurangi produksi ROS.

Antioksidan
Antioksidan sederhana yang dapat dibeli secara bebas adalah vitamin C dan vitamin E. Sampai saat ini sudah banyak penelitian yang mendukung penggunaan vitamin C dalam mencegah nyeri pasca olahraga. Vitamin C dosisnya bervariasi, namun dapat dijadikan patokan vitamin C 1000-3000mg. Sementara vitamin E walaupun tidak terbukti secara klinis dapat mengurangi nyeri pasca olahraga namun terdapat bukti bahwa vitamin ini memiliki efek protektif terhadap otot di tingkat seluler. Sama seperti vitamin C, vitamin E juga memiliki dosis yang bervariasi dari 400-1200 IU.

Selain vitamin C dan E, suplementasi omega 3 dengan dosis 3 gram per hari juga terdapat bukti dapat mengurangi kejadian nyeri pasca olahraga.

Protein
Suplementasi protein (asam amino; whey dan casein) pada cedera otot tentu saja penting dan tidak saya bahas lebih lanjut pada tulisan ini.

β-Hydroxy-β-Methylbutyrate (β-HMB)
HMB merupakan asam amino leusin yang sedang populer. Asam amino ini bekerja dalam proses pembentukan sel. Sehingga diharapkan risiko kerusakan sel-sel otot dapat diminimalisasi terutama saat melakukan jenis latihan baru atau yang sangat intensif. Dosis yang diteliti adalah 1.5-3 gram per hari.

Creatine
Walau sudah banyak dikonsumsi oleh para atlet namun penggunaan creatine dalam pencegahan atau pemulihan otot pasca cedera masih belum jelas. Sebuah studi yang meneliti konsumsi 5 gram creatine per hari untuk para atlet bola di Amerika tidak menemukan hasil yang bermakna.

Bacaan lebih lanjut:
1. http://link.springer.com/article/10.1023/A:1022413202549
2. http://link.springer.com/article/10.2165/00007256-200838060-00004
3. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3737804/

kata kunci: cedera otot, suplemen, nutrisi, antioksidan, vitamin C, vitamin E, HMB, suplementasi protein, creatine.

Penyebab & Cara Mengatasi Nyeri Otot Pasca Olahraga

Tags

, , ,

Seorang pasien yang baru pertama kali bertemu dengan saya mengeluh, “dok, saya sudah memotivasi diri untuk olahraga supaya nyeri punggung saya berkurang. Bukannya berkurang dok, badan saya malah sakit semua dua hari setelah saya berenang. Saya kapok, dok!”

Ketika saya menghadapi pasien ini, terlintas sebuah akronim di pikiran saya yaitu DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness). Saya harap para pembaca tidak membuka blog saya karena sedang mengalami kondisi ini ya. Yuk kita kenali sama-sama.

Otot tubuh kita secara garis besar dibagi menjadi dua tipe. Tipe I dikenal sebagai otot merah yang kaya akan pembuluh darah, bersifat fungsional sehari-hari untuk menjaga postur. Sementara tipe II dikenal sebagai otot putih, relatif miskin dari pembuluh darah, bersifat performance, gerakan-gerakan khusus seperti mengangkat beban.

DOMS merupakan kerusakan – strain (teregang, robek) pada otot tipe I. Gejala yang dialami pasien adanya nyeri tekan dan kaku pada saat ditekan dan saat bergerak. Beratnya gejala bervariasi antara satu pasien dengan lainnya; bisa hanya sedikit mengganggu sampai nyeri berat dan tidak dapat digerakkan. Lokasi nyeri biasanya pada otot di sekitar sendi. Terjadi 24-48 jam pasca olahraga. Bila nyeri sudah terjadi kurang dari 1 hari pasca olahraga, besar kemungkinan nyeri bukan berasal dari DOMS namun karena cedera langsung akibat olahraga.

Individu yang sering mengalami kondisi DOMS ini terutama weekend warrior (olahraga hanya satu minggu satu kali dengan intensitas di luar kemampuan), lari di jalan menurun, sepeda dengan tahanan, stepping, trampoline, lari sprint – stop – sprint stop. Aktivitas-aktivitas tersebut didominasi gerakan kontraksi eccentric, kontraksi dimana otot dalam kondisi memanjang. Peran kontraksi eccentric ini seperti rem mobil. Mana yang lebih rentan merusak rem, menginjak rem dengan hentakan-hentakan atau menginjak rem dengan halus? Kondisi yang sama juga berlaku untuk otot kita sepertinya.

Banyak teori yang mencoba menjelaskan terjadinya DOMS ini, baik akibat penumpukan asam laktat, kerusakan otot dan jaringan sekitarnya, spasme otot dan masih banyak lagi lainnya. Namun pada intinya adalah adanya kerusakan otot yang memunculkan reaksi peradangan.

Bila terjadi DOMS, kondisi ini akan mengakibatkan gangguan pada rangkaian kinematik tubuh sehingga berisiko terjadi cedera lainnya. Pada atlet hal ini akan sangat mengganggu pencapaian performanya, pada individu non atlet hal ini akan mengganggu kegiatan sehari-harinya.

Dari rehabilitasi medik dapat dilakukan pemberian cryotherapi, ultrasound diathermy, stimulasi listrik, pemberian stocking compression dan exercise khusus untuk menghilangkan keluhan.

Yang harus diingat adalah lakukan olahraga sesuai dengan kemampuan, hindari weekend warrior, start low go slow, lakukan pemanasan dilanjutkan dengan peregangan sebelum dan sesudah latihan inti.

Lebih baik sedikit tapi benar daripada banyak tapi salah.

Bacaan lanjut: http://www.researchgate.net/profile/Patria_Hume/publication/8075169_Delayed_onset_muscle_soreness__treatment_strategies_and_performance_factors/links/02bfe5107156c5591b000000.pdf

Osteoarthritis atau Osteoarthrosis – adakah proses radang pada Osteoarthritis?

Tags

,

Osteoarthritis sudah lama dikenal sebagai kerusakan tulang rawan akibat proses aus. Pendapat ini mulai bergeser sejak penelitian molekular di awal tahun 90an berlangsung. Para peneliti menemukan adanya sel-sel peradangan yang terlibat dalam proses osteoarthritis itu sendiri.

Osteoarthritis dapat dipahami secara sederhana sebagai kerusakan tulang rawan. Pemahaman tentang kerusakan tulang rawan ini pada awalnya merupakan akibat proses aus – degeneratif. Terdapat 3 faktor risiko utama kerusakan tulang rawan ini yaitu overload joint (beban berlebihan pada sendi), joint incongruency (bentuk sendi yang tidak harmonis satu sisi dengan sisi lainnya) dan abnormalitas pada matrix sendi.

Overload joint dapat terjadi pada individu dengan beban berlebih, pekerja dengan aktivitas berat atau yang memerlukan repetisi terus menerus dan atlet. Joint incongruency dapat terjadi pasca trauma atau pasca operasi tulang – sendi lutut. Abnormalitas matrix dapat terjadi pada kelainan genetik atau keturunan.

Dalam perkembangannya para peneliti menemukan adanya keterlibatan sel-sel peradangan dalam proses osteoarthritis itu sendiri. Rusaknya tulang rawan akan menyebabkan “masuknya” serpihan tulang rawan tersebut ke dalam ruang sendi. Serpihan tersebut akan dikenal sebagai benda asing. Kondisi inilah yang merangsang munculnya sel-sel radang. Sel radang ini sendiri bila tidak segera dikontrol akan menyebabkan kerusakan tulang rawan lebih lanjut.

Prof. Francis Berembaum, Ketua Departemen Rheumatologi dari Universitas Pierre & Marie Curie University menyatakan sebuah hipotesis yang menarik. Reaksi oksidatif akan menyebabkan peradangan kadar rendah. Reaksi oksidatif ini dimediasi oleh jaringan lemak, kadar gula darah yang tinggi, kadar LDL yang tinggi serta proses penuaan sel itu sendiri akan merusak persendian. Rusaknya persendian akan memacu sel radang secara sistemik. Efek sistemik dari sel radang inilah yang diperkirakan dapat mencetus penyakit Alzheimer, stroke bahkan serangan jantung.

berenbaum

Secara umum, proses mekanis terlebih dahulu mencetus kerusakan tulang rawan. Perdebatan proses mekanis terlebih dahulu atau proses radang terlebih dahulu sebagai pencetus osteoarthritis dapat disikapi dengan lebih bijaksana dimana kedua hal ini bisa saja terjadi saling mendahului.

Sumber bacaan: Osteoarthritis as an inflammatory disease (osteoarthritis is not osteoarthrosis!) oleh F. Berenbaum
http://www.oarsijournal.com/article/S1063-4584(12)01025-4/pdf

Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cepat, Mudah, Aman, Alami dan Tanpa Obat

Setelah 5 tahun berlalu, saya bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama saya. Kebanyakan dari mereka terkejut dengan penurunan berat badan saya. Lima tahun lalu berat badan saya 94 kg, tinggi badan 184 cm dengan ukuran jins 38. Overweight memang tetapi tidak sampai obese bila dihitung dengan kalkulator indeks masa tubuh. Saat ini berat badan saya 83 kg dengan ukuran jins 34 dan relatif stabil dalam 3 tahun terakhir. Saya pribadi merasakan badan yang lebih segar dan fit.

“Pasti diet abis-abisan ya? Olahraga terus-terusan? Pakai obat? Rahasianya apa sih?” Diet abis-abisan sih kaga, tetep nikmatin makanana yang suka. Olahraga sampai menghabiskan waktu untuk keluarga dan hobby jelas tidak. Ngapain pake obat kalo bisa turun sendiri secara alami. Rahasia sih ada haha.

Ada banyak jalan untuk menurunkan berat badan, tetapi saya memilih cara yang mudah, alami dapat diaplikasikan seumur hidup dan tidak perlu tersiksa. Percuma bila kita berhasil menurunkan berat badan dengan satu metode namun tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita seumur hidup.

DIET

Menurunkan atau menaikkan berat badan memiliki prinsip yang sama seperti mengatur keuangan. Kalau ingin menaikkan berat badan seperti ingin kaya dan kalau ingin menurunkan berat badan seperti ingin memiskinkan diri sendiri. Kalau ingin kaya, apa yang keluar harus lebih sedikit daripada yang masuk, sebaliknya kalau ingin miskin apa yang keluar harus lebih banyak daripada yang masuk.
Berawal dari ketidaksengajaan saya untuk terlambat makan pagi, saya menemukan banyak artikel yang menyatakan bahwa “skip your breakfast, increase your growth hormone”. Jadi saya tidak lagi breakfast namun menjadi brunch, makan dengan menu biasa sekitar jam 10 pagi. Makan terakhir jam 6 sore. Saya pribadi tidak membatasi jumlah makan saya. Kalau lagi banyak kegiatan fisik ya porsinya banyak, kalau kegiatan banyak duduk ya porsi saya kurangi. Saya menganut intermitten fasting dengan jendela 8 jam.
Bila sudah terbiasa, saya percaya kita sendiri akan lebih selektif makanan apa yang sehat dan apa yang tidak bukan? Tentu saja rebus-rebusan lebih saya pilih dibanding gorengan, daging putih lebih saya pilih dibanding merah, disertai cukup sayur dan buah-buahan serta mengurangi minuman manis. Saya mengusahakan jumlah sayuran di piring saya dua kali lebih banyak dibanding nasi yang saya makan. Saya juga menikmati minum teh hijau dibanding teh hitam dan kopi.

OLAHRAGA

Untuk menurunkan berat badan, olahraga yang saya pilih adalah aerobic exercise kombinasi dengan calisthenics. Aerobic exercise seperti jogging, renang, sepeda. Calisthenics seperti gerakan push up, jumping jack, mountain climb. Karena saya tipe pemalas dan menyukai variasi saya mengikuti latihan High Intensity Interval Training (HIIT), kombinasi calisthenics dengan aerobic exercise. Sudah banyak aplikasi di smartphone dapat diunduh secara gratis dengan kata kunci interval training. Setiap hari dilakukan kurang lebih 30 menit saja.

Untuk mengoptimalkan latihan, saya menggunakan heart rate monitor. Dengan penggunaan alat berbentuk jam ini saya dapat mengetahui apakah olahraga yang saya lakukan sudah mencapai ambang aerobic, zona pembakaran lemak. Zona ini dapat diketahui tanpa alat kok. Zona pembakaran lemak berada pada 60-70% denyut jantung maksimal. Cara mengetahui denyut jantung maksimal adalah 220-usia. Semisal Bang Andi usia 35 tahun. Denyut jantung maksimalnya 220-35=195. Zona pembakaran lemak 60%*195 sampai dengan 70%*195 yaitu 117 s.d. 136 per menit.

hr

sumber:http://i.stack.imgur.com/U50k2.png

RAHASIA

Rahasia saya berada pada mindset dan postur.
Mindset yang saya tanam di pikiran saya adalah tubuh ideal dan sehat harus memiliki indeks masa tubuh yang baik serta lingkar perut kurang dari 90 cm (jins 32-34). Untuk wanita usahakan lingkar perut kurang dari 80 cm (jins ukuran 30)

Sementara untuk postur, saya selalu berusaha untuk duduk, berdiri dan berjalan dengan tegap. Tegap disini berarti daun telinga, bahu, pinggul dan kaki dalam satu garis sejajar (netral). Sering kali kesalahan dalam postur adalah tulang belakang yang terlalu melengkung ke depan (lumbar lordosis). Pastikan pinggul pada posisi netral, tarik perut ke dalam serta usahakan kedua tulang belikat berada pada posisi netral.

netral

sumber: http://goo.gl/ip3V9o

Postur yang tepat akan mengaktifkan otot-otot punggung sisi dalam sepanjang waktu. Aktivasi otot ini akan menyebabkan energi yang tersimpan di tubuh terpakai. Sehingga energi tersebut tidak tersimpan menjadi lemak. Otot dalam yang dimaksud adalah transversus abdominis dan multifidus.

Sudah 3 tahun berlalu, berat badan saya stabil tidak yoyo. Saya bisa, Anda juga bisa.

 

kata kunci: diet, berat badan stabil, aerobic exercise, high intensity interval training, postur, mindset.

Berpikir Cara Berpikir

Cogito ergo sum. Rene Descartes.

Setelah melewati 15 tahun di dunia kedokteran, terlebih setelah menyelesaikan PPDS IKFR (Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi), saya menyadari sesuatu yang terbentuk di otak saya namun tidak saya sadari sebelumnya. Saya menyadari adanya pola berpikir yang terbentuk ketika menghadapi sebuah kasus. Pola pikir inilah yang menentukan cara saya menghadapi keluhan pasien.

Dunia rehabilitasi membiasakan para residen dan dokter spesialis yang terlibat untuk berpikir secara menyeluruh dengan menilai kemampuan fungsional pasien. Kondisi fungsional pasien dari sudut pandang rehabilitasi terdiri dari sistem muskuloskeletal (otot, tulang dan sendi), neuromuskuler (otak, sumsum tulang belakang, hingga pertemuan saraf dengan otot), kardiorespirasi yang beririsan satu sama lain ditambah faktor psikologis.

Sebagai contoh seorang pasien datang dengan nyeri leher, dimana sistem muskuloskeletal bisa jadi menjadi sistem yang paling awal terkena imbas. Adanya nyeri merupakan tanggung jawab dari sistem neuromuskular. Bila nyeri tidak diatasi akan timbul kecemasan, disini kondisi psikologis dapat terganggu. Apabila karena nyerinya, pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasa, akan terjadi penurunan aktivitas; hal ini akan mengurangi kebugaran kardiorespirasi.

1b

Selanjutnya terlintas penyaring pertama. Penyaring tersebut saya ingat dengan akronim CINTAVaViMaDe. Congenital, Infeksi, Neoplasma, Trauma, Autoimun, Vaskular, Viseral,  Metabolisme atau bersifat Degeneratif? Dalam bidang rehabilitasi, terdapat satu kotak lagi yang juga dapat dipertimbangkan yaitu Mekanik.

2b

Saringan kedua saya adalah OPQRST. Apakah keluhan tersebut berhubungan dengan Onset, Progressivity, Paliated by, Provoked by, Quality, Referred area, Regio, Severity dan Time and Temperature. Biasanya dari saringan kedua ini mulai ada gambaran penyebab nyeri lehernya apakah berasal dari kulit dan jaringan superfisial, otot, jaringan ikat, tulang, saraf, sumsum tulang atau organ dalam lainnya.

Saringan selanjutnya adalah untuk mengetahui kondisi pasien berada pada fase apa dari nyeri tersebut. Apakah fase akut, sub akut dan kronis. Penentuan fase ini penting untuk mengetahui tindakan yang dapat dilakukan.

Berlanjut ke area fungsional pasien, akronim yang saya pakai adalah MAK’EsoPVo (bahasa latin yang artinya “neneknya siapa”). Di sini saya ingin mengetahui bagaimanakan pasien Mobilisasi (terutama anggota gerak bawah), Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (terutama fungsi tangan), komunikasi dan menelan (organ wicara dan menelan), Sosial Ekonomi, Psikologi, Vokasional (pekerjaan) pasien dan kondisi lainnya. Semua ini perlu diketahui untuk menentukan target. Dari target inilah ditentukan program yang akan diberikan kepada pasien.

3b

Pola pikir ini bukan acuan pasti, namun memudahkan saya dalam menangani pasien dari segi rehabilitasi.

PPDS itu sendiri seperti mencari pasangan hidup. Kalau berjodoh ya bahagia. Saya sendiri menikmati masa suka duka (banyakan sukanya) menjalani PPDS dan senang sudah menjadi bagian dari dokter rehabilitasi medik – spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di Indonesia.

Semoga berguna dan memberi wawasan untuk teman-teman yang sedang mempertimbangkan melanjutkan ke jenjang PPDS IKFR. Mari majukan dan kembangkan dunia rehabilitasi medik bersama-sama.

Terima Kasih

Secara khusus kepada para guru, mentor dan sahabat di luar pendidikan formal, saya ingin mengucapkan terima kasih secara kronologis kepada:

  • dr. John Darmawan, Ph.D, FACR (alm.); Klinik Reumatik Seroja Semarang, yang menunjukkan horizon baru di dunia kedokteran.
  • dr. Wiwiek Basir, Sp. Rad, dr. Herman Gandhi Sp.PA dan dr. Melissa Gandhi, Sp.A; RSU Bethesda Serukam, yang menjadi panutan bagaimana menjadi seorang dokter yang melayani dengan penuh dedikasi.
  • dr. Nario Gunawan Sp.OT; RS Adi Husada Undaan Wetan Surabaya, yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan dan membentuk pola pikir saya sebagai seorang manusia. Selendang kecil di jubah wisuda saya dedikasikan untuk dokter Rio. Semoga dapat membanggakan dokter Rio.
  • dr. Donny Gunawan, Sp.KFR; RSU Sidoarjo, yang banyak memberi masukan pada saat program pendidikan berlangsung.

Semoga teladan dan kebaikan dokter semuanya dapat saya teruskan kepada semua yang membutuhkan.

dr. Raymond P, Sp.KFR

Yang Orang Tua Perlu Ketahui tentang Skoliosis

Skoliosis adalah kelainan lengkung tulang belakang ke sisi samping. Kelainan lengkung pada skoliosis tidak terbatas ke sisi samping saja, namun diikuti adanya rotasi serta adanya kemungkinan kelainan lengkung tulang belakang ke arah depan atau belakang. Dengan kata lain, kelainan yang terjadi bersifat tiga dimensi. Walaupun tidak mematikan penyakit ini penting dikarenakan dapat menyebabkan penurunan rasa percaya diri yang berimbas pada psikologi anak di masa depan. Penanganan sejak dini akan mengurangi kemungkinan tindakan operasi serta kemungkinan keberhasilan terapi yang lebih baik. Pada kasus yang sangat berat, skoliosis dapat berbahaya karena menyebabkan gangguan jantung dan paru.

Skoliosis, lengkung tulang belakang abnormal ke samping.

 

Terdapat keunikan pada penderita skoliosis dimana terdapat 3B, yaitu Brain, Beauty, Bengkok.

  • Brain: biasanya anak skoliosis berprestasi di sekolah.
  • Beauty: skoliosis lebih banyak terjadi pada anak gadis dan secara relatif memiliki paras yang cantik.

 

Skoliosis dapat disebabkan kelainan tulang belakang bawaan sejak lahir, penyakit otot dan saraf, trauma dan infeksi serta idiopatik. Kasus idiopatik merupakan kasus terbanyak yang dijumpai pada populasi. Sesuai artinya, penyebab skoliosis idiopatik hingga saat ini belum diketahui secara pasti, namun faktor genetik dianggap paling berperan. Terbukti dari meningkatnya risiko skoliosis pada anak yang memiliki orang tua atau saudara dengan skoliosis.

 

Skoliosis secara umum didapati pada 2-3% populasi masyarakat. Untuk kasus idiopatik dibedakan lagi berdasarkan usia sewaktu diagnosa ditegakkan oleh dokter, lokasi serta derajat berat skoliosis.

 

Pasien datang biasanya dengan 3 jenis keluhan: yaitu “CPC”: cosmetic (penampilan), pain (back pain – nyeri punggung) dan cardiopulmonar dysfunction (sesak nafas, mudah lelah; terjadi terutama pada kasus skoliosis berat). Orang tua wajib curiga adanya skoliosis pada anak bila kedua bahu, dan pinggul tidak sejajar sama tingginya.

 

Dokter perlu memastikan bahwa skoliosis yang diderita pasien bukan terkait dengan penyakit tertentu. Hal ini penting untuk diperhatikan karena skoliosis bisa jadi gejala awal yang terlihat dari sebuah penyakit tertentu seperti sindroma Marfan, kelainan otot saraf hingga infeksi tulang belakang.

 

Penanganan skoliosis dibagi menjadi 3″O”, yaitu observasi, orthose (brace / korset spinal) dan operasi. Semakin dini skoliosis ditegakkan semakin kecil risiko diperlukan tindakan operasi. Waktu terbaik dilakukan screening adalah sewaktu anak kita berusia 10-11 tahun. Skoliosis terjadi terutama pada fase pertumbuhan cepat yang terjadi sesaat sebelum menstruasi pada anak gadis atau saat tumbuh rambut kemaluan pada anak lelaki.

 

Kita sebagai orang tua dapat melakukan screening sederhana dengan melakukan metode berikut pada anak kita tercinta:


Forward Adam Bending Test

Lakukan langkah berikut:

1. Pemeriksa berada di belakang anak yang akan diperiksa.

2. Sang anak diminta untuk membungkuk dengan kedua kaki lurus dan kedua tangan dalam posisi menggantung dengan kedua telapak tangan saling menempel.

3. Hasil positif bila didapati adanya punuk pada punggung anak.

 

Lakukan setidaknya setiap 6 bulan sekali hingga 2 tahun setelah anak gadis mengalami menstruasi atau 3 tahun setelah anak lelaki tumbuh rambut kemaluan.

Strength Training pada Warga Lanjut Usia

Pada lanjut usia terjadi proses penuaan fisiologis pada otot dimana terjadi penurunan masa otot. Penurunan masa otot ini terjadi terutama pada otot tipe II.1 Penurunan masa otot terkait usia ini disebut sarkopenia. Akibat yang ditimbulkan kondisi ini adalah terjadinya penurunan kekuatan otot yang berujung pada penurunan performa, gangguan keseimbangan serta peningkatan risiko jatuh. Penguatan otot sudah dikenal sebagai salah satu metode melawan sarkopenia tetapi ternyata juga meningkatkan keseimbangan.2

Angka harapan hidup warga lanjut usia semakin panjang, sehingga penting untuk membantu warga lansia dapat semandiri mungkin dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Penurunan performa ini akan mengganggu aktivitas hidup sehari-hari warga lanjut usia seperti mengangkat belanjaan, naik turun tangga, melakukan pekerjaan rumah atau berkebun, menyebrang jalan dengan waktu yang singkat serta bermain dengan cucu-cucu mereka. Lebih jauh lagi, sarkopenia ini berisiko menyebabkan jatuh pada lansia. 3, 4

Sarkopenia terjadi dua mekanisme utama, faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor usia, faktor sistem saraf pusat dan hormonal. Faktor ekstrinsik adalah pola hidup sedentary asupan protein yang kurang baik. Terdapat beberapa intervensi yang dapat digunakan untuk melawan sarkopenia seperti asupan protein, terapi latihan fisik, hormon testosteron / androgen anabolik pada laki-laki, hormon estrogen pada wanita serta pemberian vitamin D bila didapati adanya defisiensi. Hingga saat ini terapi latihan fisik serta asupan protein merupakan intervensi terpilih untuk mencegah atau memperlambat proses penuaan tersebut.5,6

Terapi latihan fisik dalam bentuk strength training selain meningkatkan kekuatan juga memiliki keuntungan berupa: peningkatan densitas tulang, peningkatan ukuran otot, peningkatan metabolisme basal, penurunan kadar lemak tubuh, penurunan risiko diabetes. Selain kondisi medis terkait, peningkatan kekuatan dapat menurunkan risiko jatuh, meningkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari, memudahkan naik turun tangga atau duduk berdiri dari kursi. Warga lanjut usia yang rutin melakukan aktivitas aerobik tetap akan mendapatkan keuntungan dari strength training. Juga pada warga lanjut usia yang rapuh (frail elderly), strength training mempersiapkan lansia untuk dapat melatih kapasitas aerobiknya.4

Strength training tidak dianjurkan pada warga lansia dengan kondisi diabetes, nyeri dada, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol; hernia, katarak dan sedang dalam pengobatan kondisi terkait; perdarahan retina; cedera pada sendi atau tulang; gangguan irama jantung, gagal jantung yang belum terkompensasi; penyakit terminal serta gangguan kognitif.4

Strength training pada lansia dapat dilakukan minimal 2 kali dalam seminggu dengan intensitas sedang hingga berat; dapat menggunakan beban atau berat tubuh – kalistenik sebanyak 8-10 jenis latihan tiap kali latihan dan sebanyak 8-12 kali repetisi untuk masing-masing kelompok otot besar.7

Contoh jenis latihan penguatan pada lansia:

Gambar 1. Contoh strength training untuk lansia. 8

Pusat Kesehatan di Amerika Serikat mengeluarkan buku panduan strength training untuk warga lanjut usia. Panduan tersebut menganjurkan dilakukannya dilakukan pemanasan, latihan inti kemudian ditutup dengan pendinginan. Pemanasan selama 5-10 menit dengan berjalan biasa. Tujuan dilakukannya pemanasan adalah supaya mencegah cedera. Pada saat pemanasan, darah akan menuju ke otot serta mempersiapkan tubuh untuk berolahraga. Selain berjalan dapat juga menggunakan sepeda statis, alat dayung atau stair stepper. Sementara latihan peregangan juga memiliki peran sama pentingnya dengan pemanasan. Peregangan atau pendinginan dilakukan setelah latihan inti selesai dilakukan. Peregangan bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas, mencegah cedera, mengurangi ketegangan serta membantu supaya relaks.8

1.    Hazzard WR. Principles of Geriatric Medicine and Gerontology: McGraw-Hill Professional Publishing; 2003.

2.    Gonzalez AM, Mangine GT, Fragala MS, Stout JR, Beyer KS, Bohner JD, et al. Resistance training improves single leg stance performance in older adults. Aging Clin Exp Res. 2014;26(1):89-92.

3.    Landi F, Liperoti R, Russo A, Giovannini S, Tosato M, Capoluongo E, et al. Sarcopenia as a risk factor for falls in elderly individuals: results from the ilSIRENTE study. Clin Nutr. 2012;31(5):652-658.

4.    Porter MM. Power training for older adults. Appl Physiol Nutr Metab. 2006;31(2):87-94.

5.    Valeria Z, Renato G, Luisa C, Bruno V, Mauro Z, Matteo C. Interventions Against Sarcopenia In Older Persons. Curr Pharm Des. 2014.

6.    Thomas DR. Sarcopenia. Clin Geriatr Med. 2010;26(2):331-346.

7.    Chodzko-Zajko WJ, Proctor DN, Fiatarone Singh MA, Minson CT, Nigg CR, Salem GJ, et al. American College of Sports Medicine position stand. Exercise and physical activity for older adults. Med Sci Sports Exerc. 2009;41(7):1510-1530.

8.    Seguin RA, Activity JHCfP, Nutrition, J. G, Science DRFSoN, Policy. Growing Stronger: Strength Training for Older Adults: John Hancock Center for Physical Activity and Nutrition, Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University; 2002.

 

Dasar Rehabilitasi Anak

Tags

, ,

Beberapa kondisi penyakit pada anak yang menjadi kompetensi dokter rehabilitasi:
cerebral palsy
– distrofi muskuler progresif
– spina bifida
– keterlambatan perkembangan (developmental delay)
– hipotoni

Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan kondisi yang mengganggu potensi peran seorang anak untuk berpartisipasi di masa kanak-kanak mereka atau pada saat dewasa nanti. Dokter harus memahami kriteria diagnostik, prinsip penanganan dan komplikasi yang akan timbul. Penentuan kriteria ini wajib diketahui dengan pasti, karena diagnosis penyakit yang disebutkan tadi merupakan vonis yang berisiko menjadi beban psikologis bagi keluarga.

Prinsip dasar penanganan rehabilitasi anak HARUS selalu mempertimbangkan sebagai berikut:
1. Anak bukanlah miniatur orang dewasa.
Sebaliknya, bagaimana bagaimana kita, tenaga medis dapat menyiapkan anak supaya dapat menjadi seorang dewasa yang mandiri dan bahkan berkompetisi dengan dunia manusia normal. Prinsip ini berarti bukanlah mengajarkan kembali kemampuan atau keahlian yang sudah dimiliki; melainkan mengajarkan sedari awal kemampuan MOTORIK “yang sesuai-memungkinkan dipelajari” oleh anak seusianya.
2. Anak merupakan produk LINGKUNGANnya.
Artinya, bagaimana kita mengedukasi orang tua supaya semaksimal mungkin menciptakan lingkungan yang dapat membantu perkembangan anak tersebut.
3. Tumbuh kembang normal harus dipantau.
Mengejar ketertinggalan menjadi target tenaga medis, sampai di titik dipertimbangkannya terapi substitusi.
Dukungan emosional juga memegang peranan sangat penting.
4. Pertumbuhan tulang dan lingkup gerak sendi .
Pada anggota gerak yang lemah, stimulasi pertumbuhan tulang tentu saja tidak sebaik anggota gerak yang normal . Akibatnya: pertumbuhan tulang menjadi tidak sama; dengan kata lain risiko terjadi length discrepancy. Karena itu pemantauan berkala serta keputusan kapan dilakukan intervensi harus dikuasai oleh dokter. Di sisi lain, pada otot dengan gangguan tonus yang meningkat, berisiko terjadi pemendekan otot; intervensi dini sangat penting dilakukan.

Mempersiapkan pasien supaya dapat hidup mandiri di kemudian hari, menciptakan lingkungan yang kondusif, mengajarkan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang disesuaikan dengan usia, dukungan emosional serta menjaga kondisi tulang dan sendi. Demikian prinsip utama penanganan rehabilitasi pada anak.

Semoga berguna.

Disarikan dari Medical Rehabilitation Grabois & Halstead

Dasar Rehab

Catatan pribadi biar ga lupa😀

 

Definisi IKFR

Is a branch of Medicine concerning with the study of comprehensive management of disabilities arising from  disease or injury of the Neuro-Musculo-Skeletal and Cardio-Pulmonary Systems and the Bio-Psycho-Socio disruptions concomittant with them

Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penanganan komprehensif terhadap segala bentuk disabilitas yang disebabkan oleh cedera atau penyakit dari sistem neuromuskulosketal, kardiopulmoner dan gangguan biopsikososio yang menyertainya

Definisi impairment

Any loss or abnormality of psychological or anatomical structure or function

Abnormalitas atau hilangnya struktur atau fungsi anatomis dan psikologis

Definisi disabilitas

Any restriction or lack resulting from an Impairment of ability to perform an activity in the manner or within the range considered normal for human being

Keterbatasan atau kurangnya kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas yang dianggap sebagai aktivitas normal akibat impairmen

Definisi handicap

A disadvantage for a given individual resulting from an Impairment or Disability that limits or prevents the fulfillment of a role that is normal for that individual   (depending on the age, sex and social-cultural factors)

Ketidakmampuanseseorang akibat impairmen dan disabilitas yang membatasi atau mencegah seseorang memenuhi pemenuhan peran yang dianggap normal untuk seseorang.