Dasar Rehab

Catatan pribadi biar ga lupa ūüėÄ

 

Definisi IKFR

Is a branch of Medicine concerning with the study of comprehensive management of disabilities arising from  disease or injury of the Neuro-Musculo-Skeletal and Cardio-Pulmonary Systems and the Bio-Psycho-Socio disruptions concomittant with them

Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penanganan komprehensif terhadap segala bentuk disabilitas yang disebabkan oleh cedera atau penyakit dari sistem neuromuskulosketal, kardiopulmoner dan gangguan biopsikososio yang menyertainya

Definisi impairment

Any loss or abnormality of psychological or anatomical structure or function

Abnormalitas atau hilangnya struktur atau fungsi anatomis dan psikologis

Definisi disabilitas

Any restriction or lack resulting from an Impairment of ability to perform an activity in the manner or within the range considered normal for human being

Keterbatasan atau kurangnya kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas yang dianggap sebagai aktivitas normal akibat impairmen

Definisi handicap

A disadvantage for a given individual resulting from an Impairment or Disability that limits or prevents the fulfillment of a role that is normal for that individual   (depending on the age, sex and social-cultural factors)

Ketidakmampuanseseorang akibat impairmen dan disabilitas yang membatasi atau mencegah seseorang memenuhi pemenuhan peran yang dianggap normal untuk seseorang.

Rehabilitasi pada Operasi Dada

Rehabilitasi pada Operasi Dada

TUJUAN: mengurangi resiko atelektasis dan pneumonia pasca operasi

 

Preoperative Chest Therapy Program

 

  • Penggunaan incentive spirometer dengan target sesuai tinggi badan dan usia
  • Deep breathing exercise pada posisi semi-Fowler
  • Latihan batuk/huffing efektif dengan teknik splinting (gunakan bantal atau letakkan tangan di bekas operasi)
  • Postural drainage bila terdapat banyak dahak pre operasi
  • Rolling: memungkinkan mobilitas pasien dan mengurangi gerakan togok.

 

Postoperative Program

Dimulai pasca operasi hari pertama.

 

  • Diaphragmatic atau segmental breathing, sangat membantu pada saat pasien masih menggunakan ventilator.
  • Postural drainage + vibrasi . Hindari clapping, shaking, bouncing.
  • Kontra indikasi pada keadaan hemodinamik yang tidak stabil atau terdapat pneumothorak.

     

 

 

 


 

 

 

 

 

Tabel Rehabilitasi pasca CABG

 

Pasca Operasi hari ke

Regimen Agresif

Regimen Lambat

1

Ongkang-ongkang segera setelah ekstubasi

Bed rest

2

Ongkang-ongkang

Duduk di kursi untuk sarapan pagi

Jalan di sekitar tempat tidur selama 1 menit

Duduk di kursi untuk makan siang

Jalan di sekitar tempat tidur selama 1 menit

Duduk di kursi untuk makan malam

Jalan ke kamar mandi dengan bantuan

Jalan di ruangan dengan bantuan sejauh 15 meter

Ruang biasa dengan monitor jantung

Duduk ongkang-ongkang di siang hari selama 30 menit

Duduk di kursi untuk makan malam sesuai toleransi pasien

3

Berjalan 2-4 menit dengan bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 2, selama 10 menit, 2x/hari

Berjalan 2 menit dengan bantuan, 2x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 2.1 selama 6-8 menit

4

Berjalan 4-5 menit dengan bantuan minimal

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 3.7 selama 15 menit. 2x/hari

Pasien diperbolehkan pulang sore harinya

Berjalan 3 menit dengan bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 3.1 selama 15 menit

 

5

 

4 menit berjalan tanpa bantuan, 3 x /hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 4.1-4.6 selama 15-20 menit

6

 

5 menit berjalan tanpa bantuan tanpa bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 4.1-4.6 selama 15-20 menit

7

 

Exercise mandiri, berjalan mandiri di pagi hari

Pasien diperbolehkan pulang siang harinya

 

Cuccurullo, Sara. Physical Medicine & Rehabilitation Board Review. Demos Publishing, New York: 2010

Filosofi di balik Spesialis Rehabilitasi

Dokter dan Pasien sebagai manusia, dokter dan Pasien sebagai penyakit.

Awalnya tercetus di pikiran saya, kenapa salah satu bidang kedokteran yang dulu di Indonesia disebut sebagai dokter rehabilitasi medik (RM) menjadi dokter kedokteran fisik dan rehabilitasi (KFR). Mungkin perubahan nama ini untuk mempertegas kompetensi dari dokter yang bernaung dibawah kolegium KFR ini serta menyesuaikan kolegium internasional yaitu Physical Medicine and Rehabilitation. Lebih lanjut sekalian saya jabarkan apa itu KFR, filosofinya dan apa bedanya dengan spesialisasi yang lainnya.

KEDOKTERAN FISIK memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan gangguan fisik, penggunaan alat neurodiagnostik seperti elektromiografi dan memaksimalkan pengobatan menggunakan MEDIA FISIK seperti panas, dingin, air, listrik. Sementara REHABILITASI memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan GANGGUAN FUNGSI, dengan modal pemeriksaan fungsi motorik dan sensorik, penilaian fungsi kognitif dan pengobatannya ditujukan bagaimana pasien dapat meningkatkan fungsi serta bila perlu diedukasi untuk perubahan perilaku.

Filosofi KFR sendiri adalah bagaimana seorang dokter dapat mengevaluasi, mengobati, mengembalikan atau memaksimalkan fungsi yang tersisa sehingga pasien mampu melakukan aktivitas dengan potensi fisik, sosial, psikologis serta pekerjaan seperti sebelum sakit. Sekali lagi tulisan ini mengingatkan saya untuk selalu menanyakan tidak hanya keluhan fisik saja tetapi juga kondisi kejiwaan, kondisi keluarga, pekerjaan, lingkungan rumah.  Kondisi fisik sendiri yang menjadi fokus adalah sistem kardiorespirasi dan neuromuskuloskeletal.

Ada beberapa istilah yang akrab dikenal di kalangan KFR, istilah itu adalah: impairment, disability dan handicap.  Impairment adalah gangguan atau keterbatasan fisik yang disebabkan karena penyakit, cedera atau  kelainan dari lahir. Disability adalah akibat dari impairment dimana pasien tidak mampu untuk mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang mendasar seperti memakai baju, mandi, makan. Handicap adalah keterbatasan partisipasi di lingkungan yang seharusnya dapat dilakukan oleh orang secara normal.

Peran seorang dokter KFR adalah menghilangkan atau meminimalisasi impairment bila memungkinkan, dan mencegah impairment menjadi disabilitas. Seperti dikatakan sebelumnya menanyakan kondisi fisik, sosial, psikologis dan pekerjaan sangat penting. Sebagai contoh peran yang dijalankan seorang KFR: penanganan terhadap seorang petani laki-laki usia 45 tahun pasca operasi amputasi bawah lutut karena kecelakaan lalu lintas. Yang dilakukan adalah bagaimana menghilangkan nyeri pasca operasi, mempersiapkan puntung kakinya supaya dapat dipasang kaki palsu, menguatkan otot paha, melatih cara berjalan dengan kaki palsu. Tidak hanya itu tetapi juga sebelumnya konseling kondisi psikologisnya terutama bagaimana pasien dapat menerima dan menghadapi konsekuensi dari penyakitnya. Lingkungan sosialnya pun juga dinilai dalam arti dengan siapa pasien tinggal, tanggungan hidup sampai model kamar mandi, lantai rumah, jalan di sekitar rumah, transportasi yang digunakan sehari-hari. Semua ini dilakukan supaya pasien dapat kembali ke lingkungan sosialnya, tetap berpartisipasi aktif serta tetap berkarya (istilah kami re-integrasi sosial). Pendekatan ini jelas akan berbeda-beda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Pasien sebelumnya pasti akan berbeda penanganannya dengan anak usia 5 tahun yang datang ke dokter KFR dimana tangan kanannya diamputasi karena tumor.

Secara tradisional ORIENTASI dokter ketika melihat sebuah penyakit adalah hasil interaksi antara molekul, sel dan organ biologis sampai akhirnya terjadi PENYAKIT. Seorang dokter KFR selain melihat penyakit pasien itu sendiri juga menilai ketidakmampuan FUNGSIONAL dalam menjalankan aktivitas vital. Mungkin boleh dianggap sebagai salah satu bidang spesialisasi yang menganggap pasien sebagai manusia. Menangani manusianya, bukan hanya penyakitnya.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih residensi di bidang ini. Selama saya PTT dan bekerja sebagai dokter umum di salah satu RS swasta terbaik di Indonesia, saya melihat cukup banyak pasien sembuh dari stroke tapi tidak mampu mandiri, gagal jantung yang sudah stabil tapi tidak tahu pekerjaan apa yang mampu dilakukannya, pasca operasi ganti pinggul tapi tetap menggunakan kursi roda.

Di bidang kedokteran modern, peran dokter dan pasien adalah seimbang. Dibutuhkan peran proaktif dari kedua pihak. Dalam arti dokter mendiagnosa dan mengobati sementara pasien juga harus tahu apa penyakitnya dan apa saja yang bisa secara aktif dilakukan oleh pasien dalam menghadapi penyakitnya termasuk perubahan kebiasaan serta persiapan emosional.

Dalam melakukan pendekatan fisik, sosiopsikovokasional, seorang dokter KFR bekerja secara TIM. Tim tersebut terdiri dari dokter KFR, fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, psikologis, petugas sosial medis dan perawat.

Pendekatan terapi tidak terbatas pada pengobatan saja tetapi lebih ke manajemen. Pengobatan disini dengan maksud pemberian obat untuk menyembuhkan penyakitnya dengan obat, pembedahan dimana sifatnya lebih ke penanganan gejala. Sementara manajemen adalah bagaimana menghilangkan (relief) disability dan meningkatkan fungsi.

Gol seorang dokter tradisional adalah gejala dan penyakit, sementara dokter KFR adalah FUNGSI!

Di buku teks saya tertulis dalam bahasa Inggris dimana dokter KFR not just curing but healing, healing is active, curing is passive, healing is curing + caring.

Healing is decreasing discomfort and enhancing a sense of physical and psychological well being.

Pada intinya pendekatan dokter KFR adalah menganggap pasien as a whole human, menggunakan pendekatan tim dalam menilai fungsi dan kondisi sosiopsikovokasionalnya seperti sudah dibahas sebelumnya dan yang terakhir adalah: EDUKASI pencegahan penyakit ataupun bagaimana pasien mengatasi disabilitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Cure sometimes, treat often, comfort always.
Hippocrates

Yang Sebaiknya Anda Tahu tentang Wajah Perot Sebelah

Seminggu ini saya masuk stase Poli Rawat Jalan di Klinik Rehabilitasi Rumah Sakit Umum XXX. Dalam 3 hari praktek ada 4 pasien dengan kelumpuhan otot wajah yang datang sendiri ataupun rujukan dari bagian penyakit lain. Jadi tertarik bikin artikel sederhana mengenai penyakit dengan gejala ini.

Wajah dan ekspresinya merupakan sesuatu yang kompleks, rumit, unik, susah dipelajari, beragam arti dan jendela emosi. Gangguan saraf wajah akan menyebabkan penurunan percaya diri pasien dan beresiko membatasi partisipasi seseorang di masyarakat. Pengetahuan tentang penyakit ini akan membantu pasien dalam menyikapi gejala yang ada. Semoga berguna, enjoy!

Pasien laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan utama kelumpuhan separuh wajah kiri sejak 3 hari yang lalu. Timbul mendadak dan makin parah sejak 2 hari yang lalu dan bertahan sampai sekarang. Mulai dirasa pada saat pasien sedang naik motor, pasien menggunakan helm tanpa penutup wajah. Pada saat muncul gejala, pasien merasa kondisi tubuhnya sedang tidak enak, sedikit demam. Pendengaran telinga kiri sedikit terganggu, menjadi lebih sensitif dibanding sebelum sakit, tidak ada nyeri ataupun kelainan kulit di sekitar telinga. Sisi kiri wajah menjadi lebih kering dibanding sisi normal. Lidah terasa baal saat menikmati makanan. Mata terlihat seperti “jatuh” mengantung saat berkaca.

Aktivitas sehari-hari tidak terganggu tetapi merasa ada makanan yang tertinggal selesai mengunyah-menelan makanan. Pasien merasa kurang percaya diri bila bertemu orang lain, ketakutan stroke atau terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, kolesterol, alergi, riwayat penyakit kulit-kelamin sebelumnya. Belum mengkonsumsi obat-obatan sampai sekarang.

Dari pemeriksaan fisik didapati tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada gangguan motorik dan sensorik di bagian tubuh yang lain. Dari pemeriksaan wajah didapati pasien tidak bisa mengangkat alis, mengerutkan (mengernyitkan dahi), meringis, menutup mata spontan, mengangkat bibir bawah ke arah hidung, melebarkan lubang hidung, tersenyum lebar dan memonyongkan bibir. Tidak ada kelainan di rongga mulut dan liang telinga.

Pasien sudah membawa hasil pemeriksaan darah rutin, tidak ditemukan adanya kelainan pada hasil.

____________________________________________________________________

Dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik dan cek darah rutin yang ada dapat disimpulkan bahwa terjadi kelumpuhan saraf wajah (paresis nervus facialis) perifer.

Terapi yang dapat diberikan adalah steroid dengan atau tanpa antivirus, vitamin saraf, zinc beserta fisioterapi. Peran dokter disini adalah memastikan bahwa kelumpuhan saraf wajah itu berasal dari saraf perifer/tepi bukan saraf pusat/sentral (Stroke), memberikan terapi dan melakukan intervensi supaya tidak terjadi komplikasi.

Tanya Jawab:

Bell’s Palsy itu apa?

  • Gangguan pada saraf wajah satu sisi yang bersifat mendadak, progresif, dan bersifat self limiting disease tanpa diketemukan penyebab pastinya.

Bedanya sama stroke?

  • Bila pasien tidak mampu mengangkat alis disertai bibir mencong kemungkinan besar Bell’s palsy. Bila pasien mampu mengangkat alis tapi ditemukan adanya bibir mencong, bicara pelo, kelemahan anggota badan dengan atau tanpa kesemutan di separuh badan kemungkinan besar itu Stroke dan sebaiknya segera ke Rumah Sakit secepatnya!

Gambaran anatomis yang menjelaskan beda kelumpuhan saraf wajah perifer dan kelainan saraf sentral (perhatikan bahwa persarafan wajah sisi atas juga dipersarafi oleh otak di sisi yang sama, sementara wajah sisi bawah hanya dipersarafi oleh otak di sisi berlawanan).

Penyebab Bell’s palsy itu apa?

  • Kelumpuhan saraf wajah baru boleh disebut sebagai Bell’s palsy BILA semua penyebab gangguan saraf lainnya sudah disingkirkan.

Penyebab kelumpuhan saraf wajah itu apa saja?

  • Bisa karena infeksi (penyakit Lime, infeksi organ pendengaran, infeksi kelenjar parotis), tumor (akustik neuroma), penyakit kekebalan tubuh (autoimun seperti Multiple Sklerosis), gangguan metabolisme (seperti tiroid). Bila semua tersangka penyebab kelumpuhan saraf wajah ini dinyatakan tidak bersalah, barulah boleh disebut sebagai Bell’s palsy. Karena itu segera kontrol ke dokter yah kalo ada gejala seperti ini :).

Siapa saja yang mungkin terkena?

  • Semua orang mungkin terkena, tetapi angka kejadiannya lebih sering pada usia 15-60 tahun, ibu hamil trimester 3 atau satu minggu pasca melahirkan, riwayat infeksi virus herpes zoster dan pasien dengan kencing manis.

Sebaiknya kapan saya ke dokter bila didapati gejala seperti di atas?

  • Paling lambat 48 jam setelah gejala muncul.

Sebelum saya ke dokter, tindakan apa saja yang dapat saya lakukan di rumah?

  • Berikan tetes mata, jaga kebersihan gigi mulut, oleskan pelembab dan lakukan pijatan ringan dari bibir ke arah telinga dan alis. Juga latihan otot wajah di depan kaca.

Kalo ke dokter ntar diapain sih?

  • Dokter akan menyingkirkan penyebab-penyebab kelumpuhan saraf wajah, memberi obat, memberikan program latihan dan fisioterapi yang dapat diberikan. Pada kasus tertentu dapat dilakukan pemeriksaan Elektromyografi untuk penentuan terapi selanjutnya.

Bisa sembuh ga yah?

  • Setelah timbul gejala, biasanya akan makin parah sampai minggu ke 3, kemudian gejala bertahan konstan sampai 6 bulan. Proses penyembuhan berlangsung spontan setelah 6 bulan sampai tahunan. Peran dokter rehab disini adalah mencegah jangan sampai kelainan di wajah itu menetap.

Kalau sampai kena Bell’s palsy ini kemungkinannya bisa seberapa parah?

  • Dua dari 3 penderita Bell’s palsy akan mengalami kelumpuhan total, dimana sisanya 1 dari 3 akan mengalami kelumpuhan sebagian. Pasien yang menderita kelumpuhan total 60 persen akan kembali normal, sementara yang menderita kelumpuhan sebagian 94 persen akan kembali normal.
  • Delapan puluh lima persen akan mengalami perbaikan di minggu ke tiga, satu dari tujuh pasien akan mengalami gejala sisa ringan sementara satu dari enam pasien akan mengalami gejala sisa yang cukup berat, kontraktur wajah (asimetri wajah menetap) dan sinkinesis.

Sinkinesis itu apa?

  • Proses penyembuhan saraf yang terjadi tidak terorganisir dengan baik, sehingga terjadi respon yang salah dari saraf wajah. Contoh: pada saat mengunyah, bukannya air liur yang keluar malahan air mata, pada saat ingin tersenyum justru malah mengedipkan mata.

Saya menderita Bell’s sudah lebih dari 2 tahun dan belum ada perbaikan, apa yang bisa dokter lakukan untuk saya?

  • Dokter bisa saja menganjurkan latihan otot dan pijat wajah, pemberian suntikan Botox atau bila diperlukan dilakukan operasi bedah plastik. Anjuran ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Bacaan lebih lanjut – referensi:

http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview
http://www.mayoclinic.com/health/bells-palsy/DS00168
http://www.aafp.org/afp/2007/1001/p997.html#afp20071001p997-t2
http://www.uptodate.com/contents/bells-palsy-pathogenesis-clinical-features-and-diagnosis-in-adults?source=see_link#H3
http://www.healthyandstrong.net/tag/bells-palsy-signs

Semoga berguna.

“Dokter Rehab Medik”, Itu Dokter Apa?

“Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi” … “Apa?” … “Iya, dulu namanya dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Sp.RM), sekarang ganti nama menjadi Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR). … “Ooo, dokter Rehab Medik … mmm sebenarnya itu dokter apa sih? Mirip fisioterapi gitu?” Begitu banyaknya pertanyaan ini mendorong saya untuk menulis apa itu dokter rehabilitasi medis sejauh yang saya ketahui.

Spesialisasi yang menggunakan media fisik dalam pengobatannya dan memfokuskan diri dalam pemulihan pasien ini memiliki cakupan yang luas. Boleh dikatakan dokter Rehab mirip dengan dokter orthopedi tetapi tanpa pisau, mirip dengan reumatologis, pulmonologis-cardiologis, pediatris dan neurologis tetapi minim obat-obatan. Dokter Rehab tidak mengambil peran dari dokter spesialis tersebut, tetapi menjadi partner sepadan di dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pasien.

Dokter Rehab Medik mungkin sudah dikenal di masyarakat karena penanganan nyeri lutut dan nyeri punggung bawah yang komprehensif. Boleh dikatakan cakupan kompetensi dokter rehab jauh lebih luas dari sekedar dua kasus tersebut diatas. Dokter Rehab menangani pasien dari bayi lahir sampai pasien lanjut usia. Kasus saraf, kasus otot-tulang-sendi, kasus jantung paru, kasus cedera olahraga, kasus lansia, pasien amputasi dan kasus gangguan tumbuh kembang anak.

Di dalam praktek sehari-harinya, dokter Sp.KFR bekerja sebagai pemimpin tim yang terdiri dari, fisioterapis, okupasional terapis, terapi wicara, pekerja sosial, ortotis prostetis (pembuat alat bantu – pengganti bagian tubuh palsu), perawat medis, psikolog dan perawat. Dokter rehab akan mengumpulkan problem list pasien dari masalah dengan mobilitas, aktivitas merawat diri, komunikasi, psikologi, sosioekonomi, pekerjaan dan mencari solusinya.

Hal lain yang membedakan dokter rehabilitasi medik dengan dokter spesialisasi lainnya adalah dokter Rehab memandang pasien tidak saja dari segi penyakit tetapi juga dari segi fungsi dan bersifat holistik. Seorang pasien yang sudah stabil dari serangan jantung koroner misalnya, sepulang dari rawat inap mendapat resep obat hingga tekanan darah ataupun keluhan nyeri dada hilang. Tetapi bagaimana pasien tersebut menjalani hidupnya, bagaimana pasien bisa kembali ke performance semula, kapan diperbolehkan melakukan hubungan seks, aktivitas apa saja yang diperbolehkan, bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan dan kapan diperbolehkan bekerja kembali menjadi peran dokter Rehab.

Dokter Rehab memandang pasien dari segi penyakit dan FUNGSIONALnya.

Kasus yang menjadi kompetensi kami antara lain: kasus anak seperti Down syndrome, cerebral palsy, keterlambatan bicara, keterlambatan perkembangan anak, kaki pengkor, lutut O; cedera olahraga; kasus saraf seperti pemulihan stroke dan komplikasinya, cedera sumsum tulang belakang, sindroma Guillan Barre; kasus tulang-otot-sendi seperti nyeri lutut, kaku sendi bahu, rehabilitasi pasca operasi tendon; rehabilitasi gagal jantung, penyakit paru kronik dan kasus lansia yang beraneka ragam komplikasinya.

Dokter rehab mengobati menggunakan media fisika seperti: terapi latihan, terapi panas-dingin, listrik, LASER, pool therapy, traksi, manual therapy (manipulasi dan medical massage), shock wave therapy. Semua media fisika yang dipakai sudah diuji dahulu khasiatnya menggunakan penelitian berbasis bukti, bukan hanya pengalaman temporer semata.

Pencegahan komplikasi penyakit, mengembalikan kemampuan pasien, bagaimana memfasilitasi pasien supaya mampu beradaptasi dengan kondisi penyakit, pembelajaran keterampilan baru, mencegah kondisi supaya jangan sampai dioperasi, mencegah kecacatan dan manajemen nyeri adalah keahlian kami.

Rehabilitasi medik tidak hanya mengobati penyakit tetapi juga mengupayakan supaya pasien dapat berpartisipasi kembali di masyarakat seoptimal mungkin.

Pada intinya, dokter rehab berkompeten untuk memeriksa, mendiagnosa, mengobati dan mengevaluasi pengobatan pada kasus neuromuskuloskeletal, kardiorespirasi dan masalah biopsikososiovokasional yang menyertai. Dengan gol dimana pasien dapat diupayakan semandiri mungkin serta mampu memberi nilai tambah bagi orang lain tanpa gangguan.

Berikut link website yang berguna bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai cakupan dan sejarah IKFR.

http://www.aapmr.org/patients/aboutpmr/Pages/physiatrist.aspx
http://www.physiatry.org/Field_Section.cfm
http://en.wikipedia.org/wiki/Physical_medicine_and_rehabilitation

Terima kasih.

Ternyata Stroke Menakutkan!

Gejala klasik yang mungkin semua orang sudah ketahui mengenai stroke adalah lemas atau kesemutan separuh badan. Ketika saya mempelajari stroke lebih dalam, saya menyadari ada banyak komplikasi yang mungkin kurang dikomunikasikan kepada masyarakat luas betapa menakutkannya stroke itu.

Gejala stroke menyesuaikan lokasi dan luas area otak yang terkena. Gejala yang seringkali terlihat sepintas adanya sudut bibir yang tertinggal, tangan dan kaki yang lemas. Terlebih dari gangguan yang bersifat motorik tubuh, ada juga gejala stroke lainnya yang jarang disinggung. Seperti gangguan berbahasa, gangguan berbicara, gangguan menelan, gangguan emosi, gangguan memori dan juga depresi. Lebih menakutkan lagi bila terkena di pusat kesadaran atau di pusat pernafasan, pasien menjadi seperti tumbuhan. Begitu variatifnya gejala stroke tidak memungkinkan untuk saya tulis semua di blog ini.

Baru sekitar setahun lalu salah seorang mentor saya, dokter terkenal di Indonesia karena pengabdiannya di bidang penyakit sendi terkena stroke. Lokasi stroke berada di pusat berbahasa. Beliau terkena salah satu dari bermacam-macam jenis afasia (gangguan berbahasa). Beliau masih bisa menangkap apa yang orang lain ingin sampaikan tetapi mengalami kesulitan untuk mengungkapkan apa yang dia mau baik dalam ucapan, maupun tulisan. Otomatis pekerjaannya sebagai dokter harus ditinggalkan. Sungguh sangat disayangkan bukan?

Ada juga pasien lain yang terkena gangguan bicara dan gangguan menelan. Kedua gangguan ini biasanya muncul bersamaan karena dipersarafi oleh saraf yang sama. Pasien dengan gangguan bicara biasanya mengalami masalah kepercayaan diri karena bicara menjadi sengau atau pelo. Sementara gangguan menelan memiliki resiko yang lebih tinggi. Beresiko terjadi infeksi paru yang menyebabkan kematian bila makanan-minuman yang diberikan tersedak masuk ke paru-paru atau bahkan kematian langsung bila menyumbat jalan nafas.

Ada juga pasien yang sebelumnya pendiam mendadak berubah menjadi pemarah, hal ini pun bisa terjadi karena stroke. Pada kasus seperti ini sangat penting bagi keluarga untuk bisa mengantisipasi dan mau menerima perubahan ini.  Belum lagi pasien stroke yang terkena di pusat memori sehingga menjadi pelupa, ada pula yang tidak mampu mengenali wajah bahkan wajah istrinya sendiri (prosopagnosia).

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti terapi konseling untuk penderita penyakit kronik. Di salah satu sesinya yang bertema stroke saya diminta untuk memperagakan pasien stroke dengan kelumpuhan separuh badan kiri. Simulasi yang diminta adalah memakai kaos lengan pendek dan berjalan memakai kruk. Anda tahu … saya sampai keringatan tidak diperbolehkan menggunakan tangan dan kaki kiri saya.¬† Terlebih ketika saya diminta untuk secara mandiri menggunakan kursi roda. Semua aktivitas tersebut begitu susahnya, begitu repotnya dan begitu memakan waktu! Dari simulasi tersebut saya menjadi sadar sesadar-sadarnya betapa menakutkannya stroke itu. Tidak bisa berkarya, mengganggu kemandirian, resiko kehilangan pendapatan, merepotkan orang lain, menghabiskan dana, rasa malu dan depresi.

Karena itu bila Anda memiliki gaya hidup yang tidak sehat, rubahlah. SEKARANG!

Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Semoga berguna.

 

Waspada Stroke Sejak Dini

Di hari-hari liburan panjang seperti lebaran ini, siapa sih yang tidak tergoda untuk kuliner makanan enak? Saya pun mencari-cari makanan-makanan unik yang belum pernah saya cicipi, apalagi di kota wisata tujuan. Tidak heran pasca lebaran panjang, berat badan kita naik. Sukur-sukur kalo yang sebelumnya berat badan kurang jadi ideal. Kalau berat badan kita sudah ideal jadi overweight? Atau yang overweight jadi obesitas?

Berat badan berlebihan dihubungkan dengan profil kolesterol yang buruk. Kolesterol tinggi ditambah dengan faktor perokok, kencing manis, tidak pernah berolahraga meningkatkan resiko terjadinya stroke. Fakta di masyarakat, usia penderita stroke semakin muda. Stroke bisa terjadi pada Anda dan saya.

Apa sih stroke itu sebenarnya? Stroke atau istilah kerennya cerebrovascular accident adalah gangguan saraf terlokalisir yang bersifat mendadak dan bertahan lebih dari 24 jam. Gejala umum yang orang awam sebaiknya tahu adalah adanya PSK, yaitu bicara Pelo, tangan dan kaki Susah diatur, dan Kesemutan di tubuh.

Apa yang sebaiknya dilakukan? Segera bawa ke Rumah Sakit Rujukan Stroke yang Anda ketahui SECEPATNYA! TIME IS BRAIN! Semakin lama Anda menunda, kerusakan semakin luas dan beresiko nyawa. Semisal pasien dalam kondisi “stabil”pun penundaan terapi beresiko mengurangi kemampuan fungsional di masa mendatang.

Stroke terbagi menjadi 2 macam; stroke akibat perdarahan dan stroke akibat kurangnya suplai darah ke otak (iskemik). Stroke akibat perdarahan disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak yang mungkin harus dioperasi. Indikasi operasi menyesuaikan seberapa luas ukuran perdarahan dan lokasi. Sementara stroke akibat kurangnya suplai darah ke otak bisa disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah (trombus) atau emboli dari jantung. Yang terakhir disebut ini lebih disebabkan karena irama jantung yang tidak teratur yang menyebabkan terbentuknya gumpalan darah (vegetasi) dan kemudian menyumbat di pembuluh darah otak. Jenis stroke yang kedua ini bila dibawa ke pusat rujukan yang tepat mempunyai outcome yang bagus.  Mereka memiliki fasilitas dilakukannya trombolisis, sejenis prosedur pemberian terapi untuk membuka  pembuluh darah yang tersumbat. Penelitian terakhir menyatakan pemberian trombolisis bisa diberikan maksimal 4,5 jam dari awal gejala.

Untuk para pembaca yang masih berusia di bawah 35 tahun, sebaiknya Anda mulai waspada terhadap penyakit seperti ini. Berolahragalah secara teratur, jaga pola makan, bergaya hidup sehat, hindari rokok, manajemen stres dan setidaknya check up rutin minimal setahun sekali. Sukur-sukur ada fasilitas dari perusahaan.

Semoga berguna.

for stroke patients TIME IS BRAIN

Pengobatan dan Pencegahan Nyeri Tumit

Di masa liburan lebaran ini, fenomena yang mungkin setiap tahun berulang adalah kerepotan akibat pembantu mudik. Banyak pekerjaan rumah yang mungkin tidak terbiasa terpaksa harus dikerjakan sendiri. Peningkatan aktivitas mendadak seperti ini beresiko menimbulkan resiko nyeri pinggang, nyeri lutut ataupun nyeri di kaki terutama di tumit. Mungkin tingginya angka pekerja kantoran yang ditinggal mudik pembantunya berbanding lurus dengan kejadian nyeri tersebut.

Nyeri tumit yang paling umum disebabkan oleh plantar fasciitis. Kondisi ini terjadi karena adanya microtrauma berulang pada struktur jaringan ikat penopang lengkungan kaki. Sehingga terjadi iritasi dan inflamasi yang menimbulkan nyeri. Masalah yang timbul akibat nyeri tumit ini adalah pasien berjalan dengan timpang atau hanya menginjakkan bagian depan kaki saja. Bila ini terjadi, titik tumpu berat badan tubuh akan berpindah bukan di tempat semestinya. Ujung-ujungnya timbul efek domino dimana lutut, panggul dan pungguh bawah beresiko mengalami cedera.

Plantar fascia sendiri sebenarnya adalah jaringan ikat di bagian bawah kaki yang berguna sebagai peredam kejut tubuh ketika menopang berat badan dan alat pengungkit yang membantu proses berjalan (windlass mechanism).

Pendapat umum di masyarakat tentang nyeri tumit adalah tulang tumbuh atau bone spur atau heel spur. Pendapat ini tidak bisa dikatakan benar. Setiap 1 dari 10 orang normal memiliki bone spur, tetapi hanya 1 dari 20 orang dengan nyeri tumit memiliki bone spur. Dari fakta ini penyembuhan plantar fasciitis bisa dilakukan tanpa mengobati atau membuang bone spur.

Plantar fasciitis lebih sering terkena pada wanita usia produktif; pada orang-orang yang banyak pekerjaannya berhubungan dengan berdiri-berjalan; peningkatan berat badan atau obesitas; peningkatan aktivitas sesaat; olahraga yang banyak lari dan lompat; berjalan atau berlari di atas permukaan tanah yang tidak rata; otot betis yang ketat; kaki rata atau sebaliknya kaki dengan lengkungan (arch support) yang tinggi.

Bentuk kaki yang tidak normal, adanya nyeri di tempat lain atau penurunan berat badan dan nafsu makan disertai nyeri di malam hari memerlukan evaluasi dokter lebih lanjut.

Pasien sering kali datang dengan keluhan nyeri di tumit sesudah beberapa langkah pertama setelah bangun pagi atau setelah tidak beraktivitas lama, nyeri kemudian hilang beberapa saat bila dipaksa berjalan terus dan kemudian nyeri akan timbul lagi setelah berjalan lebih jauh. Nyeri timbul bukan pada saat beraktivitas melainkan timbul sesudahnya.

Yang bisa dilakukan bila Anda mengalami nyeri tumit seperti ini adalah:

  • Istirahat atau kurangi aktivitas berdiri-berjalan.
  • Pemberian es di tumit yang nyeri; Anda bisa menggulirkan minuman kaleng dingin di atas kaki dengan tujuan mengurangi nyeri sekaligus peregangan kaki.
  • Obat penghilang nyeri yang dijual bebas. Penggunaan di atas 2 minggu memerlukan pengawasan dokter.
  • Gunakan alas kaki walaupun di rumah tetapi hindari penggunaan sandal jepit
  • Heel pad (insole) ‚Äďbantalan khusus di tumit yang dijual bebas.
  • Pastikan alas kaki Anda beralas empuk dan jarak antara sol depan dan belakang tidak lebih dari 3cm saja.

Bila sudah tidak begitu nyeri sebaiknya dilakukan peregangan pada otot betis dan fascia  (cara lihat gambar). Lakukan masing-masing 20 kali sehari 2 kali dengan setiap peregangan selama 20 detik. Anda bisa melakukan peregangan dimana saja dan kapan saja. Makin sering makin baik.

Peregangan otot betis. Kedua tangan bersandar di tembok dan usahakan lutut tetap lurus dan tumit menyentuh lantai seutuhnya.

Peregangan otot betis. Menggunakan media tangga. Anda juga bisa menggunakan handuk untuk membantu peregangan.

Plantar fascia stretching. Dorong jari-jari kaki ke arah atas menggunakan tangan.

Toe curls. Tekuk jari-jari kaki di ujung buku tebal atau tangga ke arah bawah kemudian luruskan kembali, ulangi selama 2 menit dan lakukan 2 kali sehari.

Bila Anda pergi ke dokter, akan dilakukan pemeriksaan fleksibilitas otot betis, lingkup gerak sendi pergelangan kaki, memastikan bukan penyakit reumatik dan keretakan tulang tumit. Mungkin dokter juga akan menganjurkan pemeriksaan rontgen dan mungkin juga USG bahkan MRI walaupun jarang.

Pengobatan dokter akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Penggunaan night splint, injeksi steroid atau rich platelet, penggunaan taping dan ESWT (extra corporeal shock wave therapy).

Bila dalam 12 bulan pengobatan konservatif tidak memberikan perbaikan, dokter mungkin menganjurkan dilakukannya pembedahan.

Cegah nyeri tumit dengan rutin melakukan peregangan betis dan kaki.

Semoga membantu.

Referensi:

  1. http://www.uptodate.com/contents/plantar-fasciitis-and-other-causes-of-heel-and-sole-pain?source=search_result&selectedTitle=1~15#H3
  2. http://emedicine.medscape.com/article/827468
  3. http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00149
  4. http://emedicine.medscape.com/article/86143

Diakses pada tanggal 30 Agustus 2011.

Insomnia? Mungkin Anda Terkena ‚ÄúSindrom Kaki Gelisah‚ÄĚ

Sindrom kaki gelisah atau Restless Legs Syndrome (RLS, Wittmaack‚ÄďEkbom syndrome) Di luar negeri sindrom ini sudah menjadi perhatian ditandai dengan adanya komunitas khusus, guideline nasional masing-masing negara, bahkan adanya organisasi khusus yang mewadahi penderita RLS.

Pertama kali mendengar sindrom ini mungkin kita akan membuat kita tersenyum geli. Tetapi tahukah Anda sebanyak 3-15% populasi menderita sindrom ini tanpa batasan usia. Banyak dari penderita terganggu tidurnya –insomnia– sehingga konsentrasi terganggu, produktivitas menurun, depresi dan berujung pada kualitas hidup yang menurun. Tidak jarang pasien mengkonsumsi obat tidur yang dijual bebas justru memperberat gejala.

Bila sudah terdiagnosa, penyakit ini dapat secara efektif diobati. Karena itu penting bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit ini.

Apakah RLS itu ?

RLS adalah gangguan yang ditAndai adanya sensasi tidak enak pada anggota tubuh yang akan membaik bila digerakkan. Sensasi tersebut dapat berupa kesemutan, sesuatu yang merayap, menusuk-nusuk, pegal atau rasa seperti ingin dipijat. Anggota tubuh tidak hanya terbatas pada kaki, tetapi juga bisa pada tangan dan batang tubuh. Gangguan ini memang tidak nyeri tetapi sangat mengganggu bila Anda sedang berusaha untuk tidur atau bahkan bisa membuat Anda terbangun dari tidur.

Apa penyebabnya?

Para ahli memperkirakan adanya gangguan pada sistem dopamin -semacam transmittersaraf- di otak. Dimana sistem tersebut dipengaruhi oleh kadar besi di dalam otak. Sehingga hipotesisnya menjadi penurunan kadar besi à gangguan sistem dopamin di otak à RLS. Bagaimanapun RLS dikaitkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Faktor primer:
    • Genetik -> Hampir 40% penderita RLS disebabkan oleh kelainan genetik
  • Faktor sekunder
    • Internal
      • Rendahnya kadar besi (feritin)
      • Varises
      • Kerusakan saraf akibat kencing manis atau gagal ginjal
      • Gangguan tiroid
      • Penyakit reumatik -autoimun-
      • Hamil (hilang setelah melahirkan)
    • Eksternal
      • Obat-obatan tertentu (obat darah tinggi, obat jantung, mual, demam, alergi dan depresi)
      • Alkohol dan kafein

Apakah mungkin saya menderita RLS?

Untuk mendiagnosa RLS penderita harus memenuhi  ke 4 gejala berikut:

  • Adanya desakan untuk menggerakkan anggota tubuh
  • Membaik dengan beraktivitas
  • Memburuk pada saat beristirahat
  • Memburuk pada saat malam

Bila ke empat gejala tersebut ada semua pada saya, apa yang harus saya lakukan?

  • Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, asam folat dan vitamin B12.
  • Hindari rokok, alkohol, kopi dan semua yang mengandung kafein (teh, coklat, minuman ringan)
  • Olahraga aerobik (berjalan, berenang, senam aerobik) rutin 3 kali seminggu dengan intensitas sedang.
  • Alihkan dan fokuskan perhatian Anda pada aktivitas bila gejala mulai mengganggu
  • Berendam dengan air hangat
  • Rutin lakukan peregangan terutama sesudah jam makan malam atau sebelum tidur

Lakukan peregangan sebelum tidur

Bila semua anjuran tersebut sudah saya lakukan  tetapi gejala masih mengganggu, apa yang harus saya lakukan?

Segera konsultasi ke dokter dan komunikasikan semua obat-obatan yang rutin Anda konsumsi. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya.  Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan pencitraan) mungkin digunakan untuk mencari faktor sekunder yang tidak ditemukan melalui wawancara dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan-pemeriksaan lab tersebut akan disesuaikan secara individual.

Bila semua faktor sekunder telah disingkirkan dan tetap saja gejala masih ada, dokter akan memberikan obat. Jangan terkejut bila Anda membaca bahwa obat tersebut juga diindikasikan untuk penyakit Parkinson.

Sumber:

  1. http://emedicine.medscape.com/article/1188327-overview
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Restless_legs_syndrome
  3. www.rls.org
  4. http://www.uptodate.com/contents/restless-legs-syndrome
  5. http://www.cartoonstocks.com TIPS:

TIPS tambahan:

  1. Cobalah untuk berjalan-jalan selama 30 menit setelah makan malam.
  2. Gaya hidup sehat akan membantu kita menghindari penyakit

Mungkin Anda pernah mengalaminya?

Anak Anda Tortikolis? Kenali Sebelum Terlambat!

Kelainan pada leher bayi

Tortikolis atau dikenal di masyarakat sebagai kaku leher (torticollis, loxia, wryneck, tengleng, tengeng) berasal dari bahasa Yunani: tortus yang artinya terputar dan collum yang artinya leher. Statistik menunjukkan 1 dari 300 bayi lahir dengan tortikolis otot bawaan.  Kelainan ini lebih sering terjadi pada anak pertama.

Sangat disayangkan bila bayi yang mengalami tortikolis dibiarkan tanpa mendapatkan penanganan. Selain beresiko mengalami gangguan tumbuh kembang, tortikolis juga sangat mungkin mempengaruhi psikologis anak. Kabar baiknya sekitar 90% bayi dengan tortikolis bila diterapi sedini mungkin akan memberikan hasil yang memuaskan. Karena itu penting bagi kita untuk mengenali apa itu tortikolis. Pada kesempatan ini kita akan membatasi diskusi seputar tortikolis bawaan pada bayi saja.

Bayi dengan dugaan tortikolis dapat dikenali dari gejalanya, yaitu:  kepala miring ke satu sisi dan berputar sebagaimana rupa (tilt and twist) sehingga dagu dan wajah mengarah ke sisi yang berlawanan. Gejalanya mulai dapat dikenali pada saat bayi berusia 2-4  minggu.

Tortikolis ke arah kanan.

Otot yang ketat dan memendek akan membuat bayi lebih nyaman untuk berbaring pada sisi yang sakit. Kondisi ini menyebabkan punggung dan kepala bayi menjadi rata pada satu sisi (plagiocephaly). Dalam jangka panjang beresiko menyebabkan gangguan pertumbuhan otot wajah dan tulang kepala.  Wajah menjadi asimetris secara menetap. Kondisi ini beresiko membuat minder dalam pergaulan di masa depan pasien.

 

Plagiocephaly. Wajah menjadi asimetris dan beresiko membuat minder.

Kelainan ini juga menghambat perkembangan motorik anak. Bayi menjadi susah telungkup, susah duduk, cenderung menggunakan satu tangan saja, susah untuk merangkak dan cenderung malas berjalan.

Biasanya bayi dengan tortikolis memiliki riwayat:

  • Persalinan yang sulit dimana otot leher ¬†–sternocleidomastoideus (SCM)- teregang, robek dan terjadi perdarahan. Penyembuhan yang terjadi membentuk jaringan ikat disertai pemendekan otot. Teori ini didukung bukti dimana hampir 40% penderita memiliki riwayat persalinan sulit dengan posisi sungsang (breech-bokong) atau riwayat penggunaan forceps untuk membantu proses persalinan. Sedangkan 60% sisanya tidak ada riwayat trauma atau persalinan sulit.

  Posisi bokong

  • Posisi dalam rahim dimana aliran pembuluh darah balik dari SCM terhambat sehingga otot tersebut kurang mendapat suplai darah yang berakibat otot menjadi rusak dan digantikan oleh jaringan ikat. Teori ini didukung fakta dimana 75% bayi yang mengalami tortikolis didapati mengarah ke kanan disebabkan oleh presentasi left occiput anterior ‚ÄďLOA- (lihat gambar). Presentasi tersebut merupakan posisi janin yang paling sering ditemui.


Presentasi LOA menyebabkan 75% tortikolis mengarah ke kanan

Harus diperhatikan juga bahwa 20% bayi yang terkena tortikolis bawaan juga beresiko memiliki kelainan lain seperti kelainan tulang belakang (C1-C2 subluxation), kelainan sendi pinggul (Congenital Hip Dysplasia)*, dan kelainan kaki (club foot dan toeing in)*

Anak saya sepertinya tortikolis dok apa saja yang bisa dilakukan?

  • Segera bawa ke dokter. ¬†Anak Anda akan dipastikan ada atau tidaknya tortikolis serta kelainan lain yang menyertai. Selain pemeriksaan fisik, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan rontgen dan USG.
  • Fisioterapi rutin SEDINI MUNGKIN. Tortikolis bawaan yang disebabkan murni karena otot harus difisioterapi, idealnya pada saat bayi masih berusia dibawah 3 bulan. Terapi biasanya membutuhkan waktu selama 4-6 bulan dan hampir 90% berhasil. Bayi yang lebih tua membutuhkan waktu yang lebih lama dan prosesnya lebih sulit. Terapi pada bayi di atas 1 tahun sudah terlambat dan mungkin memerlukan tindakan operasi.
  • Letakkan mainan pada sisi di mana bayi harus memutar kepala untuk mengalihkan perhatian ke arah mainan ataupun meraih mainan tersebut
  • Letakkan bayi di kasur dimana sisi yang sakit menghadap ke dinding, sehingga bayi harus¬† memutar kepalanya untuk melihat ke arah luar kasur.

Sekali lagi, pengobatan dini menentukan penyembuhan pasien. Kenali sebelum terlambat!

Sumber:

* akan dibahas di lain kesempatan

Continue reading