Tags

, , ,

Seorang pasien yang baru pertama kali bertemu dengan saya mengeluh, “dok, saya sudah memotivasi diri untuk olahraga supaya nyeri punggung saya berkurang. Bukannya berkurang dok, badan saya malah sakit semua dua hari setelah saya berenang. Saya kapok, dok!”

Ketika saya menghadapi pasien ini, terlintas sebuah akronim di pikiran saya yaitu DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness). Saya harap para pembaca tidak membuka blog saya karena sedang mengalami kondisi ini ya. Yuk kita kenali sama-sama.

Otot tubuh kita secara garis besar dibagi menjadi dua tipe. Tipe I dikenal sebagai otot merah yang kaya akan pembuluh darah, bersifat fungsional sehari-hari untuk menjaga postur. Sementara tipe II dikenal sebagai otot putih, relatif miskin dari pembuluh darah, bersifat performance, gerakan-gerakan khusus seperti mengangkat beban.

DOMS merupakan kerusakan – strain (teregang, robek) pada otot tipe I. Gejala yang dialami pasien adanya nyeri tekan dan kaku pada saat ditekan dan saat bergerak. Beratnya gejala bervariasi antara satu pasien dengan lainnya; bisa hanya sedikit mengganggu sampai nyeri berat dan tidak dapat digerakkan. Lokasi nyeri biasanya pada otot di sekitar sendi. Terjadi 24-48 jam pasca olahraga. Bila nyeri sudah terjadi kurang dari 1 hari pasca olahraga, besar kemungkinan nyeri bukan berasal dari DOMS namun karena cedera langsung akibat olahraga.

Individu yang sering mengalami kondisi DOMS ini terutama weekend warrior (olahraga hanya satu minggu satu kali dengan intensitas di luar kemampuan), lari di jalan menurun, sepeda dengan tahanan, stepping, trampoline, lari sprint – stop – sprint stop. Aktivitas-aktivitas tersebut didominasi gerakan kontraksi eccentric, kontraksi dimana otot dalam kondisi memanjang. Peran kontraksi eccentric ini seperti rem mobil. Mana yang lebih rentan merusak rem, menginjak rem dengan hentakan-hentakan atau menginjak rem dengan halus? Kondisi yang sama juga berlaku untuk otot kita sepertinya.

Banyak teori yang mencoba menjelaskan terjadinya DOMS ini, baik akibat penumpukan asam laktat, kerusakan otot dan jaringan sekitarnya, spasme otot dan masih banyak lagi lainnya. Namun pada intinya adalah adanya kerusakan otot yang memunculkan reaksi peradangan.

Bila terjadi DOMS, kondisi ini akan mengakibatkan gangguan pada rangkaian kinematik tubuh sehingga berisiko terjadi cedera lainnya. Pada atlet hal ini akan sangat mengganggu pencapaian performanya, pada individu non atlet hal ini akan mengganggu kegiatan sehari-harinya.

Dari rehabilitasi medik dapat dilakukan pemberian cryotherapi, ultrasound diathermy, stimulasi listrik, pemberian stocking compression dan exercise khusus untuk menghilangkan keluhan.

Yang harus diingat adalah lakukan olahraga sesuai dengan kemampuan, hindari weekend warrior, start low go slow, lakukan pemanasan dilanjutkan dengan peregangan sebelum dan sesudah latihan inti.

Lebih baik sedikit tapi benar daripada banyak tapi salah.

Bacaan lanjut: http://www.researchgate.net/profile/Patria_Hume/publication/8075169_Delayed_onset_muscle_soreness__treatment_strategies_and_performance_factors/links/02bfe5107156c5591b000000.pdf