Cogito ergo sum. Rene Descartes.

Setelah melewati 15 tahun di dunia kedokteran, terlebih setelah menyelesaikan PPDS IKFR (Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi), saya menyadari sesuatu yang terbentuk di otak saya namun tidak saya sadari sebelumnya. Saya menyadari adanya pola berpikir yang terbentuk ketika menghadapi sebuah kasus. Pola pikir inilah yang menentukan cara saya menghadapi keluhan pasien.

Dunia rehabilitasi membiasakan para residen dan dokter spesialis yang terlibat untuk berpikir secara menyeluruh dengan menilai kemampuan fungsional pasien. Kondisi fungsional pasien dari sudut pandang rehabilitasi terdiri dari sistem muskuloskeletal (otot, tulang dan sendi), neuromuskuler (otak, sumsum tulang belakang, hingga pertemuan saraf dengan otot), kardiorespirasi yang beririsan satu sama lain ditambah faktor psikologis.

Sebagai contoh seorang pasien datang dengan nyeri leher, dimana sistem muskuloskeletal bisa jadi menjadi sistem yang paling awal terkena imbas. Adanya nyeri merupakan tanggung jawab dari sistem neuromuskular. Bila nyeri tidak diatasi akan timbul kecemasan, disini kondisi psikologis dapat terganggu. Apabila karena nyerinya, pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasa, akan terjadi penurunan aktivitas; hal ini akan mengurangi kebugaran kardiorespirasi.

1b

Selanjutnya terlintas penyaring pertama. Penyaring tersebut saya ingat dengan akronim CINTAVaViMaDe. Congenital, Infeksi, Neoplasma, Trauma, Autoimun, Vaskular, Viseral,  Metabolisme atau bersifat Degeneratif? Dalam bidang rehabilitasi, terdapat satu kotak lagi yang juga dapat dipertimbangkan yaitu Mekanik.

2b

Saringan kedua saya adalah OPQRST. Apakah keluhan tersebut berhubungan dengan Onset, Progressivity, Paliated by, Provoked by, Quality, Referred area, Regio, Severity dan Time and Temperature. Biasanya dari saringan kedua ini mulai ada gambaran penyebab nyeri lehernya apakah berasal dari kulit dan jaringan superfisial, otot, jaringan ikat, tulang, saraf, sumsum tulang atau organ dalam lainnya.

Saringan selanjutnya adalah untuk mengetahui kondisi pasien berada pada fase apa dari nyeri tersebut. Apakah fase akut, sub akut dan kronis. Penentuan fase ini penting untuk mengetahui tindakan yang dapat dilakukan.

Berlanjut ke area fungsional pasien, akronim yang saya pakai adalah MAK’EsoPVo (bahasa latin yang artinya “neneknya siapa”). Di sini saya ingin mengetahui bagaimanakan pasien Mobilisasi (terutama anggota gerak bawah), Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (terutama fungsi tangan), komunikasi dan menelan (organ wicara dan menelan), Sosial Ekonomi, Psikologi, Vokasional (pekerjaan) pasien dan kondisi lainnya. Semua ini perlu diketahui untuk menentukan target. Dari target inilah ditentukan program yang akan diberikan kepada pasien.

3b

Pola pikir ini bukan acuan pasti, namun memudahkan saya dalam menangani pasien dari segi rehabilitasi.

PPDS itu sendiri seperti mencari pasangan hidup. Kalau berjodoh ya bahagia. Saya sendiri menikmati masa suka duka (banyakan sukanya) menjalani PPDS dan senang sudah menjadi bagian dari dokter rehabilitasi medik – spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di Indonesia.

Semoga berguna dan memberi wawasan untuk teman-teman yang sedang mempertimbangkan melanjutkan ke jenjang PPDS IKFR. Mari majukan dan kembangkan dunia rehabilitasi medik bersama-sama.