Dokter dan Pasien sebagai manusia, dokter dan Pasien sebagai penyakit.

Awalnya tercetus di pikiran saya, kenapa salah satu bidang kedokteran yang dulu di Indonesia disebut sebagai dokter rehabilitasi medik (RM) menjadi dokter kedokteran fisik dan rehabilitasi (KFR). Mungkin perubahan nama ini untuk mempertegas kompetensi dari dokter yang bernaung dibawah kolegium KFR ini serta menyesuaikan kolegium internasional yaitu Physical Medicine and Rehabilitation. Lebih lanjut sekalian saya jabarkan apa itu KFR, filosofinya dan apa bedanya dengan spesialisasi yang lainnya.

KEDOKTERAN FISIK memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan gangguan fisik, penggunaan alat neurodiagnostik seperti elektromiografi dan memaksimalkan pengobatan menggunakan MEDIA FISIK seperti panas, dingin, air, listrik. Sementara REHABILITASI memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan GANGGUAN FUNGSI, dengan modal pemeriksaan fungsi motorik dan sensorik, penilaian fungsi kognitif dan pengobatannya ditujukan bagaimana pasien dapat meningkatkan fungsi serta bila perlu diedukasi untuk perubahan perilaku.

Filosofi KFR sendiri adalah bagaimana seorang dokter dapat mengevaluasi, mengobati, mengembalikan atau memaksimalkan fungsi yang tersisa sehingga pasien mampu melakukan aktivitas dengan potensi fisik, sosial, psikologis serta pekerjaan seperti sebelum sakit. Sekali lagi tulisan ini mengingatkan saya untuk selalu menanyakan tidak hanya keluhan fisik saja tetapi juga kondisi kejiwaan, kondisi keluarga, pekerjaan, lingkungan rumah.  Kondisi fisik sendiri yang menjadi fokus adalah sistem kardiorespirasi dan neuromuskuloskeletal.

Ada beberapa istilah yang akrab dikenal di kalangan KFR, istilah itu adalah: impairment, disability dan handicap.  Impairment adalah gangguan atau keterbatasan fisik yang disebabkan karena penyakit, cedera atau  kelainan dari lahir. Disability adalah akibat dari impairment dimana pasien tidak mampu untuk mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang mendasar seperti memakai baju, mandi, makan. Handicap adalah keterbatasan partisipasi di lingkungan yang seharusnya dapat dilakukan oleh orang secara normal.

Peran seorang dokter KFR adalah menghilangkan atau meminimalisasi impairment bila memungkinkan, dan mencegah impairment menjadi disabilitas. Seperti dikatakan sebelumnya menanyakan kondisi fisik, sosial, psikologis dan pekerjaan sangat penting. Sebagai contoh peran yang dijalankan seorang KFR: penanganan terhadap seorang petani laki-laki usia 45 tahun pasca operasi amputasi bawah lutut karena kecelakaan lalu lintas. Yang dilakukan adalah bagaimana menghilangkan nyeri pasca operasi, mempersiapkan puntung kakinya supaya dapat dipasang kaki palsu, menguatkan otot paha, melatih cara berjalan dengan kaki palsu. Tidak hanya itu tetapi juga sebelumnya konseling kondisi psikologisnya terutama bagaimana pasien dapat menerima dan menghadapi konsekuensi dari penyakitnya. Lingkungan sosialnya pun juga dinilai dalam arti dengan siapa pasien tinggal, tanggungan hidup sampai model kamar mandi, lantai rumah, jalan di sekitar rumah, transportasi yang digunakan sehari-hari. Semua ini dilakukan supaya pasien dapat kembali ke lingkungan sosialnya, tetap berpartisipasi aktif serta tetap berkarya (istilah kami re-integrasi sosial). Pendekatan ini jelas akan berbeda-beda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Pasien sebelumnya pasti akan berbeda penanganannya dengan anak usia 5 tahun yang datang ke dokter KFR dimana tangan kanannya diamputasi karena tumor.

Secara tradisional ORIENTASI dokter ketika melihat sebuah penyakit adalah hasil interaksi antara molekul, sel dan organ biologis sampai akhirnya terjadi PENYAKIT. Seorang dokter KFR selain melihat penyakit pasien itu sendiri juga menilai ketidakmampuan FUNGSIONAL dalam menjalankan aktivitas vital. Mungkin boleh dianggap sebagai salah satu bidang spesialisasi yang menganggap pasien sebagai manusia. Menangani manusianya, bukan hanya penyakitnya.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih residensi di bidang ini. Selama saya PTT dan bekerja sebagai dokter umum di salah satu RS swasta terbaik di Indonesia, saya melihat cukup banyak pasien sembuh dari stroke tapi tidak mampu mandiri, gagal jantung yang sudah stabil tapi tidak tahu pekerjaan apa yang mampu dilakukannya, pasca operasi ganti pinggul tapi tetap menggunakan kursi roda.

Di bidang kedokteran modern, peran dokter dan pasien adalah seimbang. Dibutuhkan peran proaktif dari kedua pihak. Dalam arti dokter mendiagnosa dan mengobati sementara pasien juga harus tahu apa penyakitnya dan apa saja yang bisa secara aktif dilakukan oleh pasien dalam menghadapi penyakitnya termasuk perubahan kebiasaan serta persiapan emosional.

Dalam melakukan pendekatan fisik, sosiopsikovokasional, seorang dokter KFR bekerja secara TIM. Tim tersebut terdiri dari dokter KFR, fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, psikologis, petugas sosial medis dan perawat.

Pendekatan terapi tidak terbatas pada pengobatan saja tetapi lebih ke manajemen. Pengobatan disini dengan maksud pemberian obat untuk menyembuhkan penyakitnya dengan obat, pembedahan dimana sifatnya lebih ke penanganan gejala. Sementara manajemen adalah bagaimana menghilangkan (relief) disability dan meningkatkan fungsi.

Gol seorang dokter tradisional adalah gejala dan penyakit, sementara dokter KFR adalah FUNGSI!

Di buku teks saya tertulis dalam bahasa Inggris dimana dokter KFR not just curing but healing, healing is active, curing is passive, healing is curing + caring.

Healing is decreasing discomfort and enhancing a sense of physical and psychological well being.

Pada intinya pendekatan dokter KFR adalah menganggap pasien as a whole human, menggunakan pendekatan tim dalam menilai fungsi dan kondisi sosiopsikovokasionalnya seperti sudah dibahas sebelumnya dan yang terakhir adalah: EDUKASI pencegahan penyakit ataupun bagaimana pasien mengatasi disabilitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Cure sometimes, treat often, comfort always.
Hippocrates