Gejala klasik yang mungkin semua orang sudah ketahui mengenai stroke adalah lemas atau kesemutan separuh badan. Ketika saya mempelajari stroke lebih dalam, saya menyadari ada banyak komplikasi yang mungkin kurang dikomunikasikan kepada masyarakat luas betapa menakutkannya stroke itu.

Gejala stroke menyesuaikan lokasi dan luas area otak yang terkena. Gejala yang seringkali terlihat sepintas adanya sudut bibir yang tertinggal, tangan dan kaki yang lemas. Terlebih dari gangguan yang bersifat motorik tubuh, ada juga gejala stroke lainnya yang jarang disinggung. Seperti gangguan berbahasa, gangguan berbicara, gangguan menelan, gangguan emosi, gangguan memori dan juga depresi. Lebih menakutkan lagi bila terkena di pusat kesadaran atau di pusat pernafasan, pasien menjadi seperti tumbuhan. Begitu variatifnya gejala stroke tidak memungkinkan untuk saya tulis semua di blog ini.

Baru sekitar setahun lalu salah seorang mentor saya, dokter terkenal di Indonesia karena pengabdiannya di bidang penyakit sendi terkena stroke. Lokasi stroke berada di pusat berbahasa. Beliau terkena salah satu dari bermacam-macam jenis afasia (gangguan berbahasa). Beliau masih bisa menangkap apa yang orang lain ingin sampaikan tetapi mengalami kesulitan untuk mengungkapkan apa yang dia mau baik dalam ucapan, maupun tulisan. Otomatis pekerjaannya sebagai dokter harus ditinggalkan. Sungguh sangat disayangkan bukan?

Ada juga pasien lain yang terkena gangguan bicara dan gangguan menelan. Kedua gangguan ini biasanya muncul bersamaan karena dipersarafi oleh saraf yang sama. Pasien dengan gangguan bicara biasanya mengalami masalah kepercayaan diri karena bicara menjadi sengau atau pelo. Sementara gangguan menelan memiliki resiko yang lebih tinggi. Beresiko terjadi infeksi paru yang menyebabkan kematian bila makanan-minuman yang diberikan tersedak masuk ke paru-paru atau bahkan kematian langsung bila menyumbat jalan nafas.

Ada juga pasien yang sebelumnya pendiam mendadak berubah menjadi pemarah, hal ini pun bisa terjadi karena stroke. Pada kasus seperti ini sangat penting bagi keluarga untuk bisa mengantisipasi dan mau menerima perubahan ini.  Belum lagi pasien stroke yang terkena di pusat memori sehingga menjadi pelupa, ada pula yang tidak mampu mengenali wajah bahkan wajah istrinya sendiri (prosopagnosia).

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti terapi konseling untuk penderita penyakit kronik. Di salah satu sesinya yang bertema stroke saya diminta untuk memperagakan pasien stroke dengan kelumpuhan separuh badan kiri. Simulasi yang diminta adalah memakai kaos lengan pendek dan berjalan memakai kruk. Anda tahu … saya sampai keringatan tidak diperbolehkan menggunakan tangan dan kaki kiri saya.  Terlebih ketika saya diminta untuk secara mandiri menggunakan kursi roda. Semua aktivitas tersebut begitu susahnya, begitu repotnya dan begitu memakan waktu! Dari simulasi tersebut saya menjadi sadar sesadar-sadarnya betapa menakutkannya stroke itu. Tidak bisa berkarya, mengganggu kemandirian, resiko kehilangan pendapatan, merepotkan orang lain, menghabiskan dana, rasa malu dan depresi.

Karena itu bila Anda memiliki gaya hidup yang tidak sehat, rubahlah. SEKARANG!

Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Semoga berguna.