Tanya Jawab Rehabilitasi Parkinson

Definisi parkinson:

  • Penyakit kronis progresif yang ditandai dengan adanya tremor, rigiditas, instabilitas postural dan bradikinesia

Penyebab parkinson

  • Tidak diketahui, kemungkinan berhubungan dengan proses penuaan, terpapar toksin, genetik dan stres oksidatif

Faktor risiko terjadinya parkinson

  • Usia: meningkat tajam setelah usia 50 tahun
  • Riwayat penyakit keluarga: adanya RPK meningkatkan risiko hingga 3 kali lipat
  • Jenis kelamin: laki-laki memiliki risiko lebih tinggi
  • Ras: kaukasia memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan ras lain

Patofisiologi

  • Degenerasi substansia nigra menyebabkan penurunan produksi neurotransmitter dopamin yang dibutuhkan basal ganglia, dimana basal ganglia berperan dalam gerakan volunter dan adaptasi postural.

Gambar 1. Patofisiologi parkinson

Gambar 2. Karakteristik gaya berjalan penderita Parkinson

Resting tremor

  • Gerakan bergertar ritmis anggota gerak yang muncul pada saat istirahat dan menghilang pada saat melakukan gerakan aktif.
  • Frekuensi 4-6 Hz

Rigidity

  • Otot menjadi kaku dan tidak fleksibel
  • Otot tidak dapat relaksasi setelah kontraksi volunter
  • Risiko tinggi terjadinya penurunan LGS
  • Kram dan nyeri

Bradikinesia

  • Gerakan volunter yang melambat
  • Kesulitan memulai dan mengakhiri gerakan
  • Dapat terjadi tidak hanya pada anggota gerak saja melainkan juga pada otot wajah, menelan dan sistem digestif.

Gejala minor

  1. Wajah seperti topeng
  2. On-off fenomena
  3. Gangguan pola tidur
  4. Konstipasi
  5. Gangguan miksi
  6. Gangguan otonom
  7. Gangguan bicara
  8. Gangguan menelan
  9. Gangguan seksual
  10. Masalah penglihatan dan gigi
  11. Gangguan kognitif
  12. Gejala psikiatri

 

Gambar 3. Prosedur diagnosis Parkinson

Hoehn & Yahr staging modifikasi

  • STAGE 0      = No signs of disease.
  • STAGE 1     = Unilateral disease.
  • STAGE 1.5     = Unilateral plus axial involvement.
  • STAGE 2      = Bilateral disease, without impairment of balance.
  • STAGE 2.5     = Mild bilateral disease, with recovery on pull test.
  • STAGE 3     = Mild to moderate bilateral disease; some postural instability; physically              independent.
  • STAGE 4     = Severe disability; still able to walk or stand unassisted.
  • STAGE 5     = Wheelchair bound or bedridden unless aided.

 

UPDRS dan komponennya

  • Unified Parkinson’s Disease Rating Scale

UPDRS adalah skala yang berguna untuk memonitor perkembangan penyakit Parkinson terkait hendya dan disabilitas yang mengenai pasien.

  • Mentation, Behavior and Mood
  • Activities of Daily Living
  • Motor Examination
  • Complications of Therapy

 

Komplikasi yang terjadi

  • Fracture
  • Contracture
  • Aspiration pneumonia
  • Ulcus Decubitus

Komorbid

  • Osteoporosis
  • Demensia

 

Goal rehabilitasi medik

  • Maintained functional ability
  • To prevent and treat the complication
  • To increase QoL

Prinsip rehabilitasi medik

  • Konsentrasi pada satu jenis latihan
  • Aktivitas fungsional dilatih secara bertahap
  • ROM, peregangan dengan ritme perlahan
  • Edukasi supaya tetap aktif
  • Menjaga kebugaran

Intervensi yang dapat diberikan

  • Relaxation exercises
  • Breathing and deep exercises
  • Postural control and gait training
  • Flexibility, balance, and coordination
  • Orthotic and adaptive devices
  • Environment adaptive
  • Management of speech and swallowing disorders
  • Management of miction and defecation problem
  • Management of cardiovascular disorders
  • Management of cognitive disorder
  • Education about prognosis of Parkinson disease

 

Strength Training pada Warga Lanjut Usia

Strength Training pada
Warga Lanjut Usia

Pada lanjut usia terjadi proses penuaan fisiologis pada otot dimana terjadi penurunan masa otot. Penurunan masa otot ini terjadi terutama pada otot tipe II.1 Penurunan masa otot terkait usia ini disebut sarkopenia. Akibat yang ditimbulkan kondisi ini adalah terjadinya penurunan kekuatan otot yang berujung pada penurunan performa, gangguan keseimbangan serta peningkatan risiko jatuh. Penguatan otot sudah dikenal sebagai salah satu metode melawan sarkopenia tetapi ternyata juga meningkatkan keseimbangan.2

Penurunan performa ini akan mengganggu aktivitas hidup sehari-hari warga lanjut usia seperti mengangkat belanjaan, naik turun tangga, melakukan pekerjaan rumah atau berkebun, menyebrang jalan dengan waktu yang singkat serta bermain dengan cucu-cucu mereka. Lebih jauh lagi, sarkopenia ini berisiko menyebabkan jatuh pada lansia. Angka harapan hidup warga lanjut usia semakin panjang, sehingga penting untuk membantu warga lansia dapat semandiri mungkin dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. 3, 4

Sarkopenia dapat terjadi melalui dua mekanisme utama, faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor usia, faktor sistem saraf pusat dan hormonal. Faktor ekstrinsik adalah pola hidup sedentary asupan protein yang kurang baik. Terdapat beberapa intervensi yang dapat digunakan untuk melawan sarkopenia seperti asupan protein, terapi latihan fisik, hormon testosteron / androgen anabolik pada laki-laki, hormon estrogen pada wanita serta pemberian vitamin D bila didapati adanya defisiensi. Hingga saat ini terapi latihan fisik serta asupan protein merupakan intervensi terpilih untuk mencegah atau memperlambat proses penuaan tersebut.5,6

Terapi latihan fisik dalam bentuk strength training selain meningkatkan kekuatan juga memiliki keuntungan berupa: peningkatan densitas tulang, peningkatan ukuran otot, peningkatan metabolisme basal, penurunan kadar lemak tubuh, penurunan risiko diabetes. Selain kondisi medis terkait, peningkatan kekuatan dapat menurunkan risiko jatuh, meningkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari, memudahkan naik turun tangga atau duduk berdiri dari kursi. Warga lanjut usia yang rutin melakukan aktivitas aerobik tetap akan mendapatkan keuntungan dari strength training. Juga pada warga lanjut usia yang rapuh (frail elderly), strength training mempersiapkan lansia untuk dapat melatih kapasitas aerobiknya.4

Strength training tidak dianjurkan pada warga lansia dengan kondisi diabetes, nyeri dada, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol; hernia, katarak dan sedang dalam pengobatan kondisi terkait; perdarahan retina; cedera pada sendi atau tulang; gangguan irama jantung, gagal jantung yang belum terkompensasi; penyakit terminal serta gangguan kognitif.4

Strength training pada lansia dapat dilakukan minimal 2 kali dalam seminggu dengan intensitas sedang hingga berat; dapat menggunakan beban atau berat tubuh – kalistenik sebanyak 8-10 jenis latihan tiap kali latihan dan sebanyak 8-12 kali repetisi untuk masing-masing kelompok otot besar.7

Badan Kesehatan dari Pemerintahan Amerika Serikat mengeluarkan buku panduan strength training untuk warga lanjut usia. Panduan tersebut menganjurkan dilakukannya dilakukan pemanasan, latihan inti kemudian ditutup dengan pendinginan. Pemanasan selama 5-10 menit dengan berjalan biasa. Tujuan dilakukannya pemanasan adalah supaya mencegah cedera. Pada saat pemanasan, darah akan menuju ke otot serta mempersiapkan tubuh untuk berolahraga. Sementara latihan pendinginan juga memiliki peran sama pentingnya dengan pemanasan. Peregangan atau pendinginan dilakukan setelah latihan inti selesai dilakukan. Peregangan bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas, mencegah cedera, mengurangi ketegangan serta membantu supaya relaks.8

 

 

 

 

 

 

 

Contoh jenis latihan penguatan bertahap pada lansia:

Gambar 1. Strength training untuk lansia [tahap awal). 8


Gambar 2. Tahap intermediate


Gambar 3. Tahap lanjut


Gambar 4. Pendinginan – peregangan8


Keterangan: Strength training dilakukan secara bertahap. Tahap awal dilakukan dalam dua minggu pertama. Selanjutnya latihan tahap awal dapat ditambah dengan latihan tahap intermediate di minggu ketiga dan selanjutnya. Tahap lanjut dapat ditambahkan di minggu ke 7 hingga seterusnya. Frekuensi latihan 2-3 kali per minggu dengan intensitas: 2 set x 10 repetisi untuk tiap gerakan. Untuk pendinginan dilakukan peregangan selama 20-30 detik untuk tiap gerakan.

1.    Hazzard WR. Principles of Geriatric Medicine and Gerontology: McGraw-Hill Professional Publishing; 2003.

2.    Gonzalez AM, Mangine GT, Fragala MS, Stout JR, Beyer KS, Bohner JD, et al. Resistance training improves single leg stance performance in older adults. Aging Clin Exp Res. 2014;26(1):89-92.

3.    Landi F, Liperoti R, Russo A, Giovannini S, Tosato M, Capoluongo E, et al. Sarcopenia as a risk factor for falls in elderly individuals: results from the ilSIRENTE study. Clin Nutr. 2012;31(5):652-658.

4.    Porter MM. Power training for older adults. Appl Physiol Nutr Metab. 2006;31(2):87-94.

5.    Valeria Z, Renato G, Luisa C, Bruno V, Mauro Z, Matteo C. Interventions Against Sarcopenia In Older Persons. Curr Pharm Des. 2014.

6.    Thomas DR. Sarcopenia. Clin Geriatr Med. 2010;26(2):331-346.

7.    Chodzko-Zajko WJ, Proctor DN, Fiatarone Singh MA, Minson CT, Nigg CR, Salem GJ, et al. American College of Sports Medicine position stand. Exercise and physical activity for older adults. Med Sci Sports Exerc. 2009;41(7):1510-1530.

8.    Seguin RA, Activity JHCfP, Nutrition, J. G, Science DRFSoN, Policy. Growing Stronger: Strength Training for Older Adults: John Hancock Center for Physical Activity and Nutrition, Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University; 2002.

 

 

Strength Training pada Warga Lanjut Usia

Pada lanjut usia terjadi proses penuaan fisiologis pada otot dimana terjadi penurunan masa otot. Penurunan masa otot ini terjadi terutama pada otot tipe II.1 Penurunan masa otot terkait usia ini disebut sarkopenia. Akibat yang ditimbulkan kondisi ini adalah terjadinya penurunan kekuatan otot yang berujung pada penurunan performa, gangguan keseimbangan serta peningkatan risiko jatuh. Penguatan otot sudah dikenal sebagai salah satu metode melawan sarkopenia tetapi ternyata juga meningkatkan keseimbangan.2

Angka harapan hidup warga lanjut usia semakin panjang, sehingga penting untuk membantu warga lansia dapat semandiri mungkin dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Penurunan performa ini akan mengganggu aktivitas hidup sehari-hari warga lanjut usia seperti mengangkat belanjaan, naik turun tangga, melakukan pekerjaan rumah atau berkebun, menyebrang jalan dengan waktu yang singkat serta bermain dengan cucu-cucu mereka. Lebih jauh lagi, sarkopenia ini berisiko menyebabkan jatuh pada lansia. 3, 4

Sarkopenia terjadi dua mekanisme utama, faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor usia, faktor sistem saraf pusat dan hormonal. Faktor ekstrinsik adalah pola hidup sedentary asupan protein yang kurang baik. Terdapat beberapa intervensi yang dapat digunakan untuk melawan sarkopenia seperti asupan protein, terapi latihan fisik, hormon testosteron / androgen anabolik pada laki-laki, hormon estrogen pada wanita serta pemberian vitamin D bila didapati adanya defisiensi. Hingga saat ini terapi latihan fisik serta asupan protein merupakan intervensi terpilih untuk mencegah atau memperlambat proses penuaan tersebut.5,6

Terapi latihan fisik dalam bentuk strength training selain meningkatkan kekuatan juga memiliki keuntungan berupa: peningkatan densitas tulang, peningkatan ukuran otot, peningkatan metabolisme basal, penurunan kadar lemak tubuh, penurunan risiko diabetes. Selain kondisi medis terkait, peningkatan kekuatan dapat menurunkan risiko jatuh, meningkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari, memudahkan naik turun tangga atau duduk berdiri dari kursi. Warga lanjut usia yang rutin melakukan aktivitas aerobik tetap akan mendapatkan keuntungan dari strength training. Juga pada warga lanjut usia yang rapuh (frail elderly), strength training mempersiapkan lansia untuk dapat melatih kapasitas aerobiknya.4

Strength training tidak dianjurkan pada warga lansia dengan kondisi diabetes, nyeri dada, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol; hernia, katarak dan sedang dalam pengobatan kondisi terkait; perdarahan retina; cedera pada sendi atau tulang; gangguan irama jantung, gagal jantung yang belum terkompensasi; penyakit terminal serta gangguan kognitif.4

Strength training pada lansia dapat dilakukan minimal 2 kali dalam seminggu dengan intensitas sedang hingga berat; dapat menggunakan beban atau berat tubuh – kalistenik sebanyak 8-10 jenis latihan tiap kali latihan dan sebanyak 8-12 kali repetisi untuk masing-masing kelompok otot besar.7

Contoh jenis latihan penguatan pada lansia:

Gambar 1. Contoh strength training untuk lansia. 8

Pusat Kesehatan di Amerika Serikat mengeluarkan buku panduan strength training untuk warga lanjut usia. Panduan tersebut menganjurkan dilakukannya dilakukan pemanasan, latihan inti kemudian ditutup dengan pendinginan. Pemanasan selama 5-10 menit dengan berjalan biasa. Tujuan dilakukannya pemanasan adalah supaya mencegah cedera. Pada saat pemanasan, darah akan menuju ke otot serta mempersiapkan tubuh untuk berolahraga. Selain berjalan dapat juga menggunakan sepeda statis, alat dayung atau stair stepper. Sementara latihan peregangan juga memiliki peran sama pentingnya dengan pemanasan. Peregangan atau pendinginan dilakukan setelah latihan inti selesai dilakukan. Peregangan bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas, mencegah cedera, mengurangi ketegangan serta membantu supaya relaks.8

1.    Hazzard WR. Principles of Geriatric Medicine and Gerontology: McGraw-Hill Professional Publishing; 2003.

2.    Gonzalez AM, Mangine GT, Fragala MS, Stout JR, Beyer KS, Bohner JD, et al. Resistance training improves single leg stance performance in older adults. Aging Clin Exp Res. 2014;26(1):89-92.

3.    Landi F, Liperoti R, Russo A, Giovannini S, Tosato M, Capoluongo E, et al. Sarcopenia as a risk factor for falls in elderly individuals: results from the ilSIRENTE study. Clin Nutr. 2012;31(5):652-658.

4.    Porter MM. Power training for older adults. Appl Physiol Nutr Metab. 2006;31(2):87-94.

5.    Valeria Z, Renato G, Luisa C, Bruno V, Mauro Z, Matteo C. Interventions Against Sarcopenia In Older Persons. Curr Pharm Des. 2014.

6.    Thomas DR. Sarcopenia. Clin Geriatr Med. 2010;26(2):331-346.

7.    Chodzko-Zajko WJ, Proctor DN, Fiatarone Singh MA, Minson CT, Nigg CR, Salem GJ, et al. American College of Sports Medicine position stand. Exercise and physical activity for older adults. Med Sci Sports Exerc. 2009;41(7):1510-1530.

8.    Seguin RA, Activity JHCfP, Nutrition, J. G, Science DRFSoN, Policy. Growing Stronger: Strength Training for Older Adults: John Hancock Center for Physical Activity and Nutrition, Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University; 2002.

 

Dasar Rehabilitasi Anak

Tags

, ,

Beberapa kondisi penyakit pada anak yang menjadi kompetensi dokter rehabilitasi:
- cerebral palsy
- distrofi muskuler progresif
- spina bifida
- keterlambatan perkembangan (developmental delay)
- hipotoni

Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan kondisi yang mengganggu potensi peran seorang anak untuk berpartisipasi di masa kanak-kanak mereka atau pada saat dewasa nanti. Dokter harus memahami kriteria diagnostik, prinsip penanganan dan komplikasi yang akan timbul. Penentuan kriteria ini wajib diketahui dengan pasti, karena diagnosis penyakit yang disebutkan tadi merupakan vonis yang berisiko menjadi beban psikologis bagi keluarga.

Prinsip dasar penanganan rehabilitasi anak HARUS selalu mempertimbangkan sebagai berikut:
1. Anak bukanlah miniatur orang dewasa.
Sebaliknya, bagaimana bagaimana kita, tenaga medis dapat menyiapkan anak supaya dapat menjadi seorang dewasa yang mandiri dan bahkan berkompetisi dengan dunia manusia normal. Prinsip ini berarti bukanlah mengajarkan kembali kemampuan atau keahlian yang sudah dimiliki; melainkan mengajarkan sedari awal kemampuan MOTORIK “yang sesuai-memungkinkan dipelajari” oleh anak seusianya.
2. Anak merupakan produk LINGKUNGANnya.
Artinya, bagaimana kita mengedukasi orang tua supaya semaksimal mungkin menciptakan lingkungan yang dapat membantu perkembangan anak tersebut.
3. Tumbuh kembang normal harus dipantau.
Mengejar ketertinggalan menjadi target tenaga medis, sampai di titik dipertimbangkannya terapi substitusi.
Dukungan emosional juga memegang peranan sangat penting.
4. Pertumbuhan tulang dan lingkup gerak sendi .
Pada anggota gerak yang lemah, stimulasi pertumbuhan tulang tentu saja tidak sebaik anggota gerak yang normal . Akibatnya: pertumbuhan tulang menjadi tidak sama; dengan kata lain risiko terjadi length discrepancy. Karena itu pemantauan berkala serta keputusan kapan dilakukan intervensi harus dikuasai oleh dokter. Di sisi lain, pada otot dengan gangguan tonus yang meningkat, berisiko terjadi pemendekan otot; intervensi dini sangat penting dilakukan.

Mempersiapkan pasien supaya dapat hidup mandiri di kemudian hari, menciptakan lingkungan yang kondusif, mengajarkan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang disesuaikan dengan usia, dukungan emosional serta menjaga kondisi tulang dan sendi. Demikian prinsip utama penanganan rehabilitasi pada anak.

Semoga berguna.

Disarikan dari Medical Rehabilitation Grabois & Halstead

Dasar Rehab

Catatan pribadi biar ga lupa :D

 

Definisi IKFR

Is a branch of Medicine concerning with the study of comprehensive management of disabilities arising from  disease or injury of the Neuro-Musculo-Skeletal and Cardio-Pulmonary Systems and the Bio-Psycho-Socio disruptions concomittant with them

Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penanganan komprehensif terhadap segala bentuk disabilitas yang disebabkan oleh cedera atau penyakit dari sistem neuromuskulosketal, kardiopulmoner dan gangguan biopsikososio yang menyertainya

Definisi impairment

Any loss or abnormality of psychological or anatomical structure or function

Abnormalitas atau hilangnya struktur atau fungsi anatomis dan psikologis

Definisi disabilitas

Any restriction or lack resulting from an Impairment of ability to perform an activity in the manner or within the range considered normal for human being

Keterbatasan atau kurangnya kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas yang dianggap sebagai aktivitas normal akibat impairmen

Definisi handicap

A disadvantage for a given individual resulting from an Impairment or Disability that limits or prevents the fulfillment of a role that is normal for that individual   (depending on the age, sex and social-cultural factors)

Ketidakmampuanseseorang akibat impairmen dan disabilitas yang membatasi atau mencegah seseorang memenuhi pemenuhan peran yang dianggap normal untuk seseorang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers