Dasar Rehabilitasi Anak

Tags

, ,

Beberapa kondisi penyakit pada anak yang menjadi kompetensi dokter rehabilitasi:
- cerebral palsy
- distrofi muskuler progresif
- spina bifida
- keterlambatan perkembangan (developmental delay)
- hipotoni

Kondisi-kondisi tersebut di atas merupakan kondisi yang mengganggu potensi peran seorang anak untuk berpartisipasi di masa kanak-kanak mereka atau pada saat dewasa nanti. Dokter harus memahami kriteria diagnostik, prinsip penanganan dan komplikasi yang akan timbul. Penentuan kriteria ini wajib diketahui dengan pasti, karena diagnosis penyakit yang disebutkan tadi merupakan vonis yang berisiko menjadi beban psikologis bagi keluarga.

Prinsip dasar penanganan rehabilitasi anak HARUS selalu mempertimbangkan sebagai berikut:
1. Anak bukanlah miniatur orang dewasa.
Sebaliknya, bagaimana bagaimana kita, tenaga medis dapat menyiapkan anak supaya dapat menjadi seorang dewasa yang mandiri dan bahkan berkompetisi dengan dunia manusia normal. Prinsip ini berarti bukanlah mengajarkan kembali kemampuan atau keahlian yang sudah dimiliki; melainkan mengajarkan sedari awal kemampuan MOTORIK “yang sesuai-memungkinkan dipelajari” oleh anak seusianya.
2. Anak merupakan produk LINGKUNGANnya.
Artinya, bagaimana kita mengedukasi orang tua supaya semaksimal mungkin menciptakan lingkungan yang dapat membantu perkembangan anak tersebut.
3. Tumbuh kembang normal harus dipantau.
Mengejar ketertinggalan menjadi target tenaga medis, sampai di titik dipertimbangkannya terapi substitusi.
Dukungan emosional juga memegang peranan sangat penting.
4. Pertumbuhan tulang dan lingkup gerak sendi .
Pada anggota gerak yang lemah, stimulasi pertumbuhan tulang tentu saja tidak sebaik anggota gerak yang normal . Akibatnya: pertumbuhan tulang menjadi tidak sama; dengan kata lain risiko terjadi length discrepancy. Karena itu pemantauan berkala serta keputusan kapan dilakukan intervensi harus dikuasai oleh dokter. Di sisi lain, pada otot dengan gangguan tonus yang meningkat, berisiko terjadi pemendekan otot; intervensi dini sangat penting dilakukan.

Mempersiapkan pasien supaya dapat hidup mandiri di kemudian hari, menciptakan lingkungan yang kondusif, mengajarkan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang disesuaikan dengan usia, dukungan emosional serta menjaga kondisi tulang dan sendi. Demikian prinsip utama penanganan rehabilitasi pada anak.

Semoga berguna.

Disarikan dari Medical Rehabilitation Grabois & Halstead

Dasar Rehab

Catatan pribadi biar ga lupa :D

 

Definisi IKFR

Is a branch of Medicine concerning with the study of comprehensive management of disabilities arising from  disease or injury of the Neuro-Musculo-Skeletal and Cardio-Pulmonary Systems and the Bio-Psycho-Socio disruptions concomittant with them

Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penanganan komprehensif terhadap segala bentuk disabilitas yang disebabkan oleh cedera atau penyakit dari sistem neuromuskulosketal, kardiopulmoner dan gangguan biopsikososio yang menyertainya

Definisi impairment

Any loss or abnormality of psychological or anatomical structure or function

Abnormalitas atau hilangnya struktur atau fungsi anatomis dan psikologis

Definisi disabilitas

Any restriction or lack resulting from an Impairment of ability to perform an activity in the manner or within the range considered normal for human being

Keterbatasan atau kurangnya kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas yang dianggap sebagai aktivitas normal akibat impairmen

Definisi handicap

A disadvantage for a given individual resulting from an Impairment or Disability that limits or prevents the fulfillment of a role that is normal for that individual   (depending on the age, sex and social-cultural factors)

Ketidakmampuanseseorang akibat impairmen dan disabilitas yang membatasi atau mencegah seseorang memenuhi pemenuhan peran yang dianggap normal untuk seseorang.

Rehabilitasi pada Operasi Dada

Rehabilitasi pada Operasi Dada

TUJUAN: mengurangi resiko atelektasis dan pneumonia pasca operasi

 

Preoperative Chest Therapy Program

 

  • Penggunaan incentive spirometer dengan target sesuai tinggi badan dan usia
  • Deep breathing exercise pada posisi semi-Fowler
  • Latihan batuk/huffing efektif dengan teknik splinting (gunakan bantal atau letakkan tangan di bekas operasi)
  • Postural drainage bila terdapat banyak dahak pre operasi
  • Rolling: memungkinkan mobilitas pasien dan mengurangi gerakan togok.

 

Postoperative Program

Dimulai pasca operasi hari pertama.

 

  • Diaphragmatic atau segmental breathing, sangat membantu pada saat pasien masih menggunakan ventilator.
  • Postural drainage + vibrasi . Hindari clapping, shaking, bouncing.
  • Kontra indikasi pada keadaan hemodinamik yang tidak stabil atau terdapat pneumothorak.

     

 

 

 


 

 

 

 

 

Tabel Rehabilitasi pasca CABG

 

Pasca Operasi hari ke

Regimen Agresif

Regimen Lambat

1

Ongkang-ongkang segera setelah ekstubasi

Bed rest

2

Ongkang-ongkang

Duduk di kursi untuk sarapan pagi

Jalan di sekitar tempat tidur selama 1 menit

Duduk di kursi untuk makan siang

Jalan di sekitar tempat tidur selama 1 menit

Duduk di kursi untuk makan malam

Jalan ke kamar mandi dengan bantuan

Jalan di ruangan dengan bantuan sejauh 15 meter

Ruang biasa dengan monitor jantung

Duduk ongkang-ongkang di siang hari selama 30 menit

Duduk di kursi untuk makan malam sesuai toleransi pasien

3

Berjalan 2-4 menit dengan bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 2, selama 10 menit, 2x/hari

Berjalan 2 menit dengan bantuan, 2x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 2.1 selama 6-8 menit

4

Berjalan 4-5 menit dengan bantuan minimal

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 3.7 selama 15 menit. 2x/hari

Pasien diperbolehkan pulang sore harinya

Berjalan 3 menit dengan bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 3.1 selama 15 menit

 

5

 

4 menit berjalan tanpa bantuan, 3 x /hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 4.1-4.6 selama 15-20 menit

6

 

5 menit berjalan tanpa bantuan tanpa bantuan, 3x/hari

Menyelesaikan sesi rehabilitasi dengan beban METs 4.1-4.6 selama 15-20 menit

7

 

Exercise mandiri, berjalan mandiri di pagi hari

Pasien diperbolehkan pulang siang harinya

 

Cuccurullo, Sara. Physical Medicine & Rehabilitation Board Review. Demos Publishing, New York: 2010

Filosofi di balik Spesialis Rehabilitasi

Dokter dan Pasien sebagai manusia, dokter dan Pasien sebagai penyakit.

Awalnya tercetus di pikiran saya, kenapa salah satu bidang kedokteran yang dulu di Indonesia disebut sebagai dokter rehabilitasi medik (RM) menjadi dokter kedokteran fisik dan rehabilitasi (KFR). Mungkin perubahan nama ini untuk mempertegas kompetensi dari dokter yang bernaung dibawah kolegium KFR ini serta menyesuaikan kolegium internasional yaitu Physical Medicine and Rehabilitation. Lebih lanjut sekalian saya jabarkan apa itu KFR, filosofinya dan apa bedanya dengan spesialisasi yang lainnya.

KEDOKTERAN FISIK memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan gangguan fisik, penggunaan alat neurodiagnostik seperti elektromiografi dan memaksimalkan pengobatan menggunakan MEDIA FISIK seperti panas, dingin, air, listrik. Sementara REHABILITASI memfokuskan pada diagnosis dan pengobatan GANGGUAN FUNGSI, dengan modal pemeriksaan fungsi motorik dan sensorik, penilaian fungsi kognitif dan pengobatannya ditujukan bagaimana pasien dapat meningkatkan fungsi serta bila perlu diedukasi untuk perubahan perilaku.

Filosofi KFR sendiri adalah bagaimana seorang dokter dapat mengevaluasi, mengobati, mengembalikan atau memaksimalkan fungsi yang tersisa sehingga pasien mampu melakukan aktivitas dengan potensi fisik, sosial, psikologis serta pekerjaan seperti sebelum sakit. Sekali lagi tulisan ini mengingatkan saya untuk selalu menanyakan tidak hanya keluhan fisik saja tetapi juga kondisi kejiwaan, kondisi keluarga, pekerjaan, lingkungan rumah.  Kondisi fisik sendiri yang menjadi fokus adalah sistem kardiorespirasi dan neuromuskuloskeletal.

Ada beberapa istilah yang akrab dikenal di kalangan KFR, istilah itu adalah: impairment, disability dan handicap.  Impairment adalah gangguan atau keterbatasan fisik yang disebabkan karena penyakit, cedera atau  kelainan dari lahir. Disability adalah akibat dari impairment dimana pasien tidak mampu untuk mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang mendasar seperti memakai baju, mandi, makan. Handicap adalah keterbatasan partisipasi di lingkungan yang seharusnya dapat dilakukan oleh orang secara normal.

Peran seorang dokter KFR adalah menghilangkan atau meminimalisasi impairment bila memungkinkan, dan mencegah impairment menjadi disabilitas. Seperti dikatakan sebelumnya menanyakan kondisi fisik, sosial, psikologis dan pekerjaan sangat penting. Sebagai contoh peran yang dijalankan seorang KFR: penanganan terhadap seorang petani laki-laki usia 45 tahun pasca operasi amputasi bawah lutut karena kecelakaan lalu lintas. Yang dilakukan adalah bagaimana menghilangkan nyeri pasca operasi, mempersiapkan puntung kakinya supaya dapat dipasang kaki palsu, menguatkan otot paha, melatih cara berjalan dengan kaki palsu. Tidak hanya itu tetapi juga sebelumnya konseling kondisi psikologisnya terutama bagaimana pasien dapat menerima dan menghadapi konsekuensi dari penyakitnya. Lingkungan sosialnya pun juga dinilai dalam arti dengan siapa pasien tinggal, tanggungan hidup sampai model kamar mandi, lantai rumah, jalan di sekitar rumah, transportasi yang digunakan sehari-hari. Semua ini dilakukan supaya pasien dapat kembali ke lingkungan sosialnya, tetap berpartisipasi aktif serta tetap berkarya (istilah kami re-integrasi sosial). Pendekatan ini jelas akan berbeda-beda antar satu pasien dengan pasien lainnya. Pasien sebelumnya pasti akan berbeda penanganannya dengan anak usia 5 tahun yang datang ke dokter KFR dimana tangan kanannya diamputasi karena tumor.

Secara tradisional ORIENTASI dokter ketika melihat sebuah penyakit adalah hasil interaksi antara molekul, sel dan organ biologis sampai akhirnya terjadi PENYAKIT. Seorang dokter KFR selain melihat penyakit pasien itu sendiri juga menilai ketidakmampuan FUNGSIONAL dalam menjalankan aktivitas vital. Mungkin boleh dianggap sebagai salah satu bidang spesialisasi yang menganggap pasien sebagai manusia. Menangani manusianya, bukan hanya penyakitnya.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih residensi di bidang ini. Selama saya PTT dan bekerja sebagai dokter umum di salah satu RS swasta terbaik di Indonesia, saya melihat cukup banyak pasien sembuh dari stroke tapi tidak mampu mandiri, gagal jantung yang sudah stabil tapi tidak tahu pekerjaan apa yang mampu dilakukannya, pasca operasi ganti pinggul tapi tetap menggunakan kursi roda.

Di bidang kedokteran modern, peran dokter dan pasien adalah seimbang. Dibutuhkan peran proaktif dari kedua pihak. Dalam arti dokter mendiagnosa dan mengobati sementara pasien juga harus tahu apa penyakitnya dan apa saja yang bisa secara aktif dilakukan oleh pasien dalam menghadapi penyakitnya termasuk perubahan kebiasaan serta persiapan emosional.

Dalam melakukan pendekatan fisik, sosiopsikovokasional, seorang dokter KFR bekerja secara TIM. Tim tersebut terdiri dari dokter KFR, fisioterapis, okupasi terapis, terapis wicara, psikologis, petugas sosial medis dan perawat.

Pendekatan terapi tidak terbatas pada pengobatan saja tetapi lebih ke manajemen. Pengobatan disini dengan maksud pemberian obat untuk menyembuhkan penyakitnya dengan obat, pembedahan dimana sifatnya lebih ke penanganan gejala. Sementara manajemen adalah bagaimana menghilangkan (relief) disability dan meningkatkan fungsi.

Gol seorang dokter tradisional adalah gejala dan penyakit, sementara dokter KFR adalah FUNGSI!

Di buku teks saya tertulis dalam bahasa Inggris dimana dokter KFR not just curing but healing, healing is active, curing is passive, healing is curing + caring.

Healing is decreasing discomfort and enhancing a sense of physical and psychological well being.

Pada intinya pendekatan dokter KFR adalah menganggap pasien as a whole human, menggunakan pendekatan tim dalam menilai fungsi dan kondisi sosiopsikovokasionalnya seperti sudah dibahas sebelumnya dan yang terakhir adalah: EDUKASI pencegahan penyakit ataupun bagaimana pasien mengatasi disabilitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Cure sometimes, treat often, comfort always.
Hippocrates

Yang Sebaiknya Anda Tahu tentang Wajah Perot Sebelah

Seminggu ini saya masuk stase Poli Rawat Jalan di Klinik Rehabilitasi Rumah Sakit Umum XXX. Dalam 3 hari praktek ada 4 pasien dengan kelumpuhan otot wajah yang datang sendiri ataupun rujukan dari bagian penyakit lain. Jadi tertarik bikin artikel sederhana mengenai penyakit dengan gejala ini.

Wajah dan ekspresinya merupakan sesuatu yang kompleks, rumit, unik, susah dipelajari, beragam arti dan jendela emosi. Gangguan saraf wajah akan menyebabkan penurunan percaya diri pasien dan beresiko membatasi partisipasi seseorang di masyarakat. Pengetahuan tentang penyakit ini akan membantu pasien dalam menyikapi gejala yang ada. Semoga berguna, enjoy!

Pasien laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan utama kelumpuhan separuh wajah kiri sejak 3 hari yang lalu. Timbul mendadak dan makin parah sejak 2 hari yang lalu dan bertahan sampai sekarang. Mulai dirasa pada saat pasien sedang naik motor, pasien menggunakan helm tanpa penutup wajah. Pada saat muncul gejala, pasien merasa kondisi tubuhnya sedang tidak enak, sedikit demam. Pendengaran telinga kiri sedikit terganggu, menjadi lebih sensitif dibanding sebelum sakit, tidak ada nyeri ataupun kelainan kulit di sekitar telinga. Sisi kiri wajah menjadi lebih kering dibanding sisi normal. Lidah terasa baal saat menikmati makanan. Mata terlihat seperti “jatuh” mengantung saat berkaca.

Aktivitas sehari-hari tidak terganggu tetapi merasa ada makanan yang tertinggal selesai mengunyah-menelan makanan. Pasien merasa kurang percaya diri bila bertemu orang lain, ketakutan stroke atau terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, kolesterol, alergi, riwayat penyakit kulit-kelamin sebelumnya. Belum mengkonsumsi obat-obatan sampai sekarang.

Dari pemeriksaan fisik didapati tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada gangguan motorik dan sensorik di bagian tubuh yang lain. Dari pemeriksaan wajah didapati pasien tidak bisa mengangkat alis, mengerutkan (mengernyitkan dahi), meringis, menutup mata spontan, mengangkat bibir bawah ke arah hidung, melebarkan lubang hidung, tersenyum lebar dan memonyongkan bibir. Tidak ada kelainan di rongga mulut dan liang telinga.

Pasien sudah membawa hasil pemeriksaan darah rutin, tidak ditemukan adanya kelainan pada hasil.

____________________________________________________________________

Dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik dan cek darah rutin yang ada dapat disimpulkan bahwa terjadi kelumpuhan saraf wajah (paresis nervus facialis) perifer.

Terapi yang dapat diberikan adalah steroid dengan atau tanpa antivirus, vitamin saraf, zinc beserta fisioterapi. Peran dokter disini adalah memastikan bahwa kelumpuhan saraf wajah itu berasal dari saraf perifer/tepi bukan saraf pusat/sentral (Stroke), memberikan terapi dan melakukan intervensi supaya tidak terjadi komplikasi.

Tanya Jawab:

Bell’s Palsy itu apa?

  • Gangguan pada saraf wajah satu sisi yang bersifat mendadak, progresif, dan bersifat self limiting disease tanpa diketemukan penyebab pastinya.

Bedanya sama stroke?

  • Bila pasien tidak mampu mengangkat alis disertai bibir mencong kemungkinan besar Bell’s palsy. Bila pasien mampu mengangkat alis tapi ditemukan adanya bibir mencong, bicara pelo, kelemahan anggota badan dengan atau tanpa kesemutan di separuh badan kemungkinan besar itu Stroke dan sebaiknya segera ke Rumah Sakit secepatnya!

Gambaran anatomis yang menjelaskan beda kelumpuhan saraf wajah perifer dan kelainan saraf sentral (perhatikan bahwa persarafan wajah sisi atas juga dipersarafi oleh otak di sisi yang sama, sementara wajah sisi bawah hanya dipersarafi oleh otak di sisi berlawanan).

Penyebab Bell’s palsy itu apa?

  • Kelumpuhan saraf wajah baru boleh disebut sebagai Bell’s palsy BILA semua penyebab gangguan saraf lainnya sudah disingkirkan.

Penyebab kelumpuhan saraf wajah itu apa saja?

  • Bisa karena infeksi (penyakit Lime, infeksi organ pendengaran, infeksi kelenjar parotis), tumor (akustik neuroma), penyakit kekebalan tubuh (autoimun seperti Multiple Sklerosis), gangguan metabolisme (seperti tiroid). Bila semua tersangka penyebab kelumpuhan saraf wajah ini dinyatakan tidak bersalah, barulah boleh disebut sebagai Bell’s palsy. Karena itu segera kontrol ke dokter yah kalo ada gejala seperti ini :).

Siapa saja yang mungkin terkena?

  • Semua orang mungkin terkena, tetapi angka kejadiannya lebih sering pada usia 15-60 tahun, ibu hamil trimester 3 atau satu minggu pasca melahirkan, riwayat infeksi virus herpes zoster dan pasien dengan kencing manis.

Sebaiknya kapan saya ke dokter bila didapati gejala seperti di atas?

  • Paling lambat 48 jam setelah gejala muncul.

Sebelum saya ke dokter, tindakan apa saja yang dapat saya lakukan di rumah?

  • Berikan tetes mata, jaga kebersihan gigi mulut, oleskan pelembab dan lakukan pijatan ringan dari bibir ke arah telinga dan alis. Juga latihan otot wajah di depan kaca.

Kalo ke dokter ntar diapain sih?

  • Dokter akan menyingkirkan penyebab-penyebab kelumpuhan saraf wajah, memberi obat, memberikan program latihan dan fisioterapi yang dapat diberikan. Pada kasus tertentu dapat dilakukan pemeriksaan Elektromyografi untuk penentuan terapi selanjutnya.

Bisa sembuh ga yah?

  • Setelah timbul gejala, biasanya akan makin parah sampai minggu ke 3, kemudian gejala bertahan konstan sampai 6 bulan. Proses penyembuhan berlangsung spontan setelah 6 bulan sampai tahunan. Peran dokter rehab disini adalah mencegah jangan sampai kelainan di wajah itu menetap.

Kalau sampai kena Bell’s palsy ini kemungkinannya bisa seberapa parah?

  • Dua dari 3 penderita Bell’s palsy akan mengalami kelumpuhan total, dimana sisanya 1 dari 3 akan mengalami kelumpuhan sebagian. Pasien yang menderita kelumpuhan total 60 persen akan kembali normal, sementara yang menderita kelumpuhan sebagian 94 persen akan kembali normal.
  • Delapan puluh lima persen akan mengalami perbaikan di minggu ke tiga, satu dari tujuh pasien akan mengalami gejala sisa ringan sementara satu dari enam pasien akan mengalami gejala sisa yang cukup berat, kontraktur wajah (asimetri wajah menetap) dan sinkinesis.

Sinkinesis itu apa?

  • Proses penyembuhan saraf yang terjadi tidak terorganisir dengan baik, sehingga terjadi respon yang salah dari saraf wajah. Contoh: pada saat mengunyah, bukannya air liur yang keluar malahan air mata, pada saat ingin tersenyum justru malah mengedipkan mata.

Saya menderita Bell’s sudah lebih dari 2 tahun dan belum ada perbaikan, apa yang bisa dokter lakukan untuk saya?

  • Dokter bisa saja menganjurkan latihan otot dan pijat wajah, pemberian suntikan Botox atau bila diperlukan dilakukan operasi bedah plastik. Anjuran ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Bacaan lebih lanjut – referensi:

http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview

http://www.mayoclinic.com/health/bells-palsy/DS00168

http://www.aafp.org/afp/2007/1001/p997.html#afp20071001p997-t2

http://www.uptodate.com/contents/bells-palsy-pathogenesis-clinical-features-and-diagnosis-in-adults?source=see_link#H3

http://www.healthyandstrong.net/tag/bells-palsy-signs

Semoga berguna.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.